Minggu, 27 Juli 2025
Kamis, 24 Juli 2025
Sinta 2
Jumat, 11 Juli 2025
Mimpi Advokat?
Minggu, 06 Juli 2025
Berhenti S2?
Rabu, 25 Juni 2025
glimpse
Selasa, 24 Juni 2025
Selamat Menikah Bq. Lina Hayati
Senin, 23 Juni 2025
Masih Bertanya
Minggu, 22 Juni 2025
Sebuah Catatan 21-23 Juni
Selasa, 17 Juni 2025
Betapa Rindu Kadangkala Muncul Melalui Tabir Waktu
Pun kadangkala aku memikirkannya.
Aku memikirkan sekaligus merindukan bagaimana aku dulu bisa menulis banyak kata,
merindukan bagaimana ketika aku masih di pondok mampu menulis ragam tulisan dan
karya. Memang, aku berkembang, beberapa prestasi aku toreh, tetapi rindu itu
tidak bisa aku bohongi. Aku mengingat malam-malam di Pena Santri, ketika aku
menulis dan menyelesaikannya ketika shubuh mulai datang, mengemas barang, dan
berangkat untuk sholat shubuh berjamaah.
Aku merindukan masa-masa yang mana kita hanya
perlu menikmati apa yang ada, sebuah tempat kita merasa cukup. Sementara kini,
kurasa, kendati tidak benar-benar peduli, tuntutan itu semakin ada disana-disini.
Ia mengepungku seperti hyena mengepung kelinci. Aku tak bisa mengelak. Pun
juga, tidak ada pilihan selain melawannya. Berdiri, menghadapinya.
Malam ini pukul 12:57, sembari menulis
ditemani Fahmi yang sedang bermain Mobile Legend, dengan lagu Andra and The
Backbone ‘Sempurna’, dan tarian-tarian jari di atas keybord ini, aku kembali
merindu.
Betapa kenangan masa lalu
seringkali muncul melalui tabir-tabir waktu, yang tersingkap dalam memori,
melalui gambar dan orang-orang. Melalui cerita dan titik-titik waktu.
Kadangkala, aku ingin kembali ke
masa-masa itu, tetapi waktu mesti terus bergerak maju.
Kamis, 08 Mei 2025
Sebuah Catatan dari Seorang Beban Keluarga
Sebuah Catatan dari Seorang Beban Keluarga
Setel musik dulu nggak sih?
Kalau kamu membaca tulisan ini, berarti ulang tahunku sudah
semakin dekat, dan aku akan melakukan hal yang sama seperti orang-orang pada
umumnya; melakukan refleksi, merenung, mengurung diri dalam kamar dan ngomak-ngamuk
sembari mempertanyakan satu hal; betapa tidak bergunanya aku dalam hidup ini.
Mei tahun 2024 adalah ulang tahun terburuk sebab disanalah ayahku
meninggal tanpa sempat melihat toga di atas kepala, dan kepergiannya membuat
aku merasa kosong. Aku merasa gagal. Aku jatuh dan molor untuk wisuda, aku tak
merasa berarti dan merasa tahun-tahun perkuliahan adalah tahun-tahun yang
sia-sia. Aku tak mengingat bahwa aku telah menjadi ketua HMJ, aku tak mengingat
bahwa aku telah menjadi bagian kaderisasi di PMII, aku tak mengingat bahwa aku
telah memiliki prestasi-prestasi, menulis ratusan lebih artikel saat menjadi
mahasiswa, atau tak juga mengingat bagaimana orang-orang berterima kasih
kepadaku. Semuanya terasa kosong dan nyaris tanpa makna. Momen itu aku
menyadari bahwasanya aku tidak hanya kehilangan sesosok ayah, tetapi kehilangan
sebagian makna hidupku.
Satu-satunya cara aku bertahan saat itu adalah dengan
membaca buku; menggunakan 50% dari gaji untuk membeli buku-buku yang aku mau,
duduk di atas kursi sepanjang hari dan terus membaca, menulusuri kalimat demi
kalimat, menyusur kata, membelah paragraf. Bab demi bab yang kosong dengan hati
yang belum terisi. Maka pada bulan ini aku telah bersiap-siap dengan segala hal
yang buruk, misalnya saja kaki kejepit pintu atau tiba-tiba Dajjal datang
sambil joget Samba. Barangkali, aku telah siap.
Aku percaya bahwa selama aku membaca buku dan belajar,
berdiskusi, dan bertemu dengan orang-orang hebat maka aku akan terus bertumbuh.
Namun, apakah itu benar-benar kemauanku? Apakah aku benar-benar berarti dan
layak hidup? Aku mengingat Ace di anime One Piece yang dijebol Akainu, dan pada
momen itulah ia memahami bahwa dirinya sangat berharga. Lalu pertanyaan kepada
diriku sendiri; apakah aku akan tahu bahwa diriku berharga jikalau aku mati
nanti, barangkali saat sebuah insiden atau masa-masa sekarat, melihat sekilas
hidup yang aku jalani; apakah aku sudah cukup baik menjadi seorang hamba untuk
bertemu dengan kekasihnya? Aku mempertanyakan itu.
Namun aku juga hidup di dunia yang realistis, sebuah dunia
yang memandang manusia satu dengan manusia lainnya atas asas statistik dan
angka. Di dunia ini, jika kita tidak memiliki uang, kita tidak akan dianggap.
Perempuan dan wanita terkadang sangat kejam kepada lelaki miskin. Di dunia ini,
IPK dan skor pelajaran seolah sangat berarti untuk menentukan bahwa orang itu
berguna atau tidak, dan hal yang paling lucu; anak-anak juga dilihat sebagai bisnis,
ia adalah saham berjalan untuk orangtua mereka, dan orangtua akan berinvestasi
pada anaknya melalui susu saat bayi, biaya makan dan pendidikan, atau
sejenisnya, dan sebab orangtua adalah donatur, dan sebab anak dianggap sebagai saham,
maka ia memiliki hak untuk mempertanyakan hasil dari investasinya, sebuah profit
maupun keuntungan, atau apalah namanya.
Maka inilah masalahnya. Tuhan tak pernah menurunkan
kalkulatornya di Bumi sehingga kebaikan-kebaikan dan cinta tak dapat dikalkulasi.
Menurutku itu adalah blunder yang dilakukan oleh Tuhan sebab orang-orang
mempertanyakan makna mereka; seorang pengangguran yang membantu nenek
menyebrang jalan, seorang pengais sampah wanita yang menahan diri agar tidak
memakan sebungkus nasi yang ia miliki sebab ada anaknya yang menanti di rumah.
Aku percaya bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang baik, orang-orang baik yang
terkadang juga mempertanyakan apakah kebaikannya sudah cukup untuk dianggap
bermakna. Sebagaimana mereka, aku juga mempertanyakan hal yang sama.
Tahun ini aku setidaknya masih bisa berprestasi, masih bisa
membantu kawan-kawanku meminang gelar-gelar di kampusnya, masih bisa melihat
orang-orang yang sempat aku didik berprestasi, diundang jadi pemateri, dan
masih bisa mempertahankan idealisme agar orang-orang mempercayai bahwasanya
Tuhan belum mati dan tidak pernah tertidur. Namun seperti kataku tadi, apakah
itu sudah cukup? Beberapa kebaikan tidak berbekas dalam bentuk angka, ia hanya
kembali kepada Tuhan Yang Maha Mengingat, dan aku percaya bahwa Tuhan mengingat
kebaikan-kebaikan yang pernah diberikan manusia kepada manusia, alam, dan
sekitarnya.
Hanya saja tanpa angka-angka dan gelar, tanpa hasil yang
bisa ditunjukkan, aku ingin tahu apakah kebaikan-kebaikan itu memiliki makna,
sebab kebaikan tidak pernah menjadi statistika. Namun aku berharap, setitik air
yang aku berikan kepada orang lain bisa membuat Tuhan tersenyum, dan tentu
saja, bisa membuat ayahku bangga.
Tahun ini diiringi dengan percekcokan keluarga yang aku
sudah bodo amat, dan usaha-usaha diriku untuk bisa menjadi lebih baik. Sebagaimana
manusia lainnya, aku tetap berusaha walau banyak gagalnya, aku mencoba
mendaftar beasiswa, masih mencoba mempertahankan diri untuk berbuat baik, masih
menjadi pengangguran dengan ide bisnis yang akan kami jalankan bulan depan, masih
berusaha menulis dan menjadi konten kreator, dan masih mencoba untuk mendengarkan
cerita orang lain kendati aku akan melemparkan sedikit humor agar membuat
dirinya tertawa.
Tahun ini aku membuat komunitas Laron, menjadi WAPIC di LBP,
dan karyaku terpilih untuk diterbitkan sebagai buku. Tentunya;
Aku masih hidup sebagai manusia dengan gagal jatuhnya. Semoga
yang baik berbiak, dan semoga keberkahan tercurahkan kepada kita selalu. Salam
cinta dariku untuk diriku, salam cinta dari Tuhan untuk semesta alam.
Untuk Allah, Tuhan yang aku cintai dan aku sayangi;
percayalah walau aku tidak akan pernah sesuci nabi Muhammad Saw. walau aku
berlumur dosa dan seberapa besar pun aku berusaha menjadi baik, aku masih tidak
merasa pantas menyebut diriku sebagai seorang kekasih, aku masih tidak merasa
pantas bahkan untuk mendapatkan janji-janji surgamu, apalagi duduk di
emperannya. Pun aku juga tidak merasa pantas untuk menerima kasih sayang yang
selalu engkau berikan tanpa aku meminta, juga aku tidak pernah merasa pantas menerima
semua yang engkau titipkan padaku. Suatu saat nanti jika engkau bertanya tangan,
kaki, mata, pikiran ataupun mulut ini aku gunakan untuk apa semasa hidup, aku
juga tidak tahu menjawab apa, sebab aku selalu merasa tidak pernah cukup untuk menebus
satu mili kebaikanMu, bahkan menebus dosa jika ia dianggap sebagai hutang.
Sebagai hambaMu, aku selalu berharap bisa membuatMu tertawa maupun bahagia,
tetapi komediku barangkali tidak akan pernah lucu, sebab engkau Maha Tahu.
Ya Allah, untuk kakek, nenek, dan ayahku yang telah meninggal
dunia. Padamu aku meminta agar mereka disayang dan dihapus dosa-dosanya,
kemudian dimasukkan kedalam surga Firdaus. Intinya surga Firdaus, hambamu ini
tidak mau surga yang lain.
Dan satu lagi, aku mau menitip pesan kepada ayah dan
permintaan maaf; anakmu gagal menjadi mahasiswa terbaik, ia gagal mendapatkan
IPK 4.0 sebagaimana yang ayah harapkan saat aku semester 3. Katakan kepadanya
bahwa ia masih gagal banyak hal di dalam hidup, masih ceroboh dan
tergopoh-gopoh, masih sering lupa, masih suka menonton anime dan lalai. Katakan
kepadanya bahwa aku mencintainya, dan masih berusaha melampaui ayah dalam
segala hal seperti prestasi, ketenaran, finansial, dan kebaikan. Katakan
kepadanya bahwa aku selalu mencoba, namun aku masih banyak gagalnya.
Ini adalah Sebuah Catatan dari Seorang Beban Keluarga pada
bulan Mei untuk menyambut ulang tahunnya yang ke-24. Semoga yang baik berbiak, semoga
cinta dan kasih tercurah dari segala penjuru semesta. Oh, Tuhan, jadikanlah aku
cahaya.
Terimakasih telah membaca.
Jumat, 25 April 2025
Membuat Laporan Observasi
Belakangan banyak yang memberikan pesan dan bertanya tentang ‘bagaimana melakukan observasi di sekolah?’, kemudian, pertanyaannya adalah bagaimana formatnya?. Well, kedua pertanyaan tersebut sebenarnya tidak sulit-sulit amat, namun sekiranya perlu diketahui biar tidak salah tulis biar hasilnya manis, uhuy!
Pertama, kita akan membahas dulu pertanyaan yang pertama; Bagaimana melakukan observasi?
Hal pertama yang harus dilakukan adalah bertanya kepada diri sendiri atau melihat tugas yang diberikan terkait ‘hal yang akan diobservasi’. Dalam melakukan observasi tugasnya bisa macam-macam, apakah yang diobservasi adalah cara mengajar guru? Kelengkapan sekolah? RPP atau Silabus? Pelaksanaan program sekolah? Kesiapan siswa atau murid? Atau barangkali tukang cilok yang mangkal di depan sekolah?
Hal tersebut perlu diperjelas agar jangan-jangan tugasnya adalah mengobservasi guru di sekolah tapi yang dilihat adalah tukang mamang cilok yang ada di depan sekolah. Kenapa penting? Satu, nanti nilai bisa jeblok. Kedua, nanti mamang ciloknya bisa ge’er.
Jadi perlu ditahu dulu hal yang perlu di observasi. Jika yang di observasi adalah sekolahnya? Maka observasinya juga banyak, namun bisa sekali turun. Data bisa diminta di TU sekolah, foto-foto bisa di ambil sendiri, dan RPP maupun silabus juga diminta.
Namun jika yang di observasi adalah cara mengajar? Maka itu beda lagi. Perlu adanya cheklist tentang bagaimana guru mengajar. Apakah ia menggunakan RPP? Apakah gurunya interaktif? Apakah gurunya memiliki manajemen kelas yang bagus? Apakah murid suka dengan penjelasan guru? Banyak. Jika murid yang di observasi, juga bisa dengan pertanyaan-pertanyaan sejenis.
Maka dari itu, perlu tahu secara jelas ‘hal yang di observasi’.
Untuk memperjelas hal yang di observasi, maka perlu sekiranya dibuat LEMBAR OBSERVASI.
Jadi, pembahasan kedua adalah tentang lembar observasi.
Simplenya lembar observasi mencakup hal-hal yang terdapat saat melakukan observasi, wujudnya bisa macam-macam, misalnya dalam bentuk cheklist ada/tidak, atau bisa juga sering/kadang-kadang/tidak pernah, atau iya/tidak. Bisa dalam bentuk pertanyaan dan jawaban, dan lainnya.
Lembar observasi memang mencakup hal yang di observasi, dan pengisiannya bisa nanti saat membuat laporan, bisa juga saat di tempat.
Ketiga, Bagaimana menyusun hasil Observasi?
1. Cover yang berisi logo UIN, Nama observer dan NIM (Pastikan ini ada biar dosennya tidak bingung kasih nilai siapa), dan tentu saja Fakultas dan Prodi kita tercinta.
2. Halaman pengesahan (Kalau ada)
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Lampiran (Saya tidak tahu lampiran diletakkan paling depan atau paling belakang observasi, yang jelas taruh saja) Dalam lampiran inilah ditaruh foto-foto observasi. Misalnya data murid, data guru, piagam sekolah, sesi wawancara, murid, bebas. Kalau mau taruhin foto kamu pelukan sama pacar juga boleh, tapi nilainya anjlok ayayayayyaya
6. BAB I PENDAHULUAN, Bab ini berisi Latar Belakang, Tujuan Observasi, Manfaat observasi (Misal, mahasiswa bisa mengetahui/memahami), dan tempat observasi.
7. BAB II Hasil Pelaksanaan Observasi, Disini ditulis hal-hal yang telah di observasi berdasarkan lembar observasi. Apakah wawancara soal iya/tidak, apakah sering/kadang-kadang/ jarang atau tidak pernah? Bebas.
8. BAB III : PENUTUP yang mencakup kesimpulan dan saran
Bisa tidur deh!
Begitulah.
Kalau salah gimana kak?
Santuy aja, namanya juga belajar.
Tugas itu yang penting jadi, kalau salah? Yaaaa, namanya juga belajar.
Kuncinya satu; dengerin dosen.
Filenya bisa di download disini (Nggak menjamin laporannya benar, namanya juga dibuat pas masih seumuran kalian, wkakaka): LINK DRIVE LAPORAN.
Kamis, 24 April 2025
Pagi ini Aku Awali Dengan Rindu
Pagi ini aku awali dengan rindu, pada pukul 05:37 aku sedang mengetik tulisan ini setelah sebelumnya menyeduh secangkir susu dan sebelumnya lagi membaca buku Cara-Cara Terbaik Mengajarkan Matematika yang ditulis Randi Stone.
Hanya saja kerinduanku kepada sang ayah muncul, barangkali buku matematika itu menjelaskan sebuah skema bagaimana ayahku jago matemtaika, sementara aku harus berjuang habis-habisan untuk mempelajarinya. Barangkali juga karena pagi ini aku duduk sembari menikmati keadaan, dan bahwasanya hidup mesti disyukuri.
Hanya saja aku merindukan ayah kendati ia telah pergi. Aku merindukan senyum atau ucapan-ucapannya, aku merindukan segala hal-hal yang berkaitan dengan dan merindukan bagaimana cinta yang semestinya aku ungkapkan tidak akan mungkin lagi bisa aku sampaikan. Bahkan jutaan bunga di atas batu nisan tidak akan mengubah kenyataan bahwa orang yang kita cintai telah pergi.
Pagi ini aku awali dengan secangkir susu dan sekelumit rindu. Perasaan lainnya adalah ketakutan aku terhadap IELTS yang akan segera aku laksanakan. Aku sangat taku bilamana aku akan gagal, aku dipenuhi keraguan, namun baarangkali takut dan ragu adalah bagian dari hidup yang harus aku tapaki. Sebuah langkah—bagaimanapun jua—harus tetap dilakukan. Barangkali aku juga akan terluka dan terseok-seok, namun hidup adalah hidup, dan sebagaimana mimpi yang dipertaruhkan, ia hanya bisa didapatkan bilamana kita memenangkannya.
Jumat, 18 April 2025
Suatu Saat Jika Aku Menikah Nanti….
Suatu Saat Jika Aku Menikah Nanti….
Jika suatu saat aku menikah, aku ingin membeli kasur yang empuk untuk istriku, mungkin cukup besar untuk kami, mungkin juga cukup untuk kami bermain. Aku ingin kasur itu empuk agar kami bisa tidur nyaman, agar istriku bisa istirahat, dan agar istriku bisa bangun dengan perasaan penuh sukacita.
Suatu saat jika aku menikah nanti, aku akan terbangun dengan melihat orang yang paling cantik sedunia, yang ada disampingku, yang ada dihadapanku. Kala aku membuka mata, aku akan menjadi orang yang paling bersyukur sebab bisa menjadi milikmu, dan bersyukur sebab diantara jutaan lelaki yang bisa kamu pilih, kamu memilih aku. Barangkali aku juga akan iseng mencium bibir atau keningmu, atau mungkin meletakkan tangan kananku di pipimu.
Sautu saat nanti jika aku menikah, aku ingom sebuah mesin cuci yang bisa mengeringkan pakaian-pakaian basah. Aku ingin kegiatan mencuciku lebih efektif, aku ingin kegiatan lain bisa kita lakukan dengan lebih cepat. Aku ingin kita menjemur baju, dan aku harap sinar matahari bisa menjangkau kita berdua sebab aku ingin lebih sehat jika bersamamu.
Barangkali, entah teras, ruang tamu, atau meja makan. Aku juga ingin memilikinya. Aku ingin kita menghabiskan makanan dan santap-santap berdua disana. Jika pada akhirnya meja makan itu tidak bisa kita miliki, jika ternyata rumah kita terlalu kecil untuk sebuah meja. Aku ingin kita makan satu lantai bersama. Kamu dan aku, dengan lauk pauk, dengan nasi hangat yang baru kita ambil dari rice cooker, dengan sayur bayaram dan brokoli, dengan senyuman kamu di hari itu, ah, indahnya…
Suatu saat nantu jika aku menikah, aku ingin kita lebih banyak berkomunikasi dan berbicara, aku ingin kita lebih banyak menunjukkan cinta dan tak malu-malu saat melakukannya. Aku harap aku bisa sedikit lebih romantis karena aku orangnya kaku dan kikuk, namun aku ingin tetap bersyukur setelah aku memiliki kamu, hidupku jadi lebih bewarna pelangi dan merah jambu.
Jika pada suatu saat nanti aku pada akhirnya menikah. Aku ingin kamu tahu bahwa barangkali aku masih sempat berpikir bahwa kau akan jauh lebih bahagia jika bersama orang lain, hal yang kadangkala membuatku sedih dan gundah, dan mulai mempertanyakan, apakah aku bisa membuatmu lebih bahagia dibandingkan kemarin? Aku ingin tahu apakah tujuanku menikah sudah benar; bahwa tujuanku adalah untuk membuat kamu bahagia, dan aku ingin , kebahagaiaan itu cukup untuk kamu, cukup untuk aku, cukup untuk siapapun yang ada di rumah ini, dan cukup untuk siapapun yang terlahir dari rahimmu.
Suatu saat nanti jika aku menikah, aku berharap memiliki rumah yang tidak terlalu besar, namun tidak juga terlalu kecil. Sebuah rumah yang pas dengan tanah-tanah yang bisa kita tanami tumbuhan cabai atau mungkin pohon-pohon jambu. Jika boleh, aku ingin menanam durian atau alpukat, dan jika boleh juga, jeruk atau rambutan. Aku bukanya ingin membuat rumah kita seperti hutan, aku hanya ingin bahwa di masa tua kita, kita masih bisa hidup santai, tanpa harus terlalu peduli dengan riauh riuhnya dunia yang selalu bergerak cepat dan mempermasalahan hal-hal sepele.
Suatu saat nanti jika aku menikah denganmu, aku berharap bahwa kita bisa melalui kebosanan -kebosoanan yang akan ada, barangkali ia muncul tiap hari dan tiap waktu, namun harapanku adalah aku ingin kita bisa melewatinya dan sadar bahwa sebuah hubungan panjang tidak hanya diisi oleh keseruan-keseruan belaka, melainkan juga ketahanan kita akan kebosanan, dan bagaimana kita berupaya untuk terus bersama.
Sauatu saat jika aku menikah nanti, aku berharap bahwa uangku cukup untuk membeli hal-hal yang kita butuhkan, hal-hal yang bisa membuat kita tidak terlalu bekerja keras untuk uang, hal yang bisa membuat kita tidak terlalu khawatir akan esok hari, hal yang membuatku ingin hidup untuk saat ini, di tempat ini, bersamamu.
Barangkali aku juga akan belajar bagaimana bisa romantis bersamamu, dan aku harap sebagaimana aku yang menerima kamu dengan masa lalumu, kamu nisa menerima aku dengan masa laluku.
Dan dosa-dosa, semoga menjadi hal yang kita tinggalkan di esok hari. Hari ini, aku ingin lebih lama bersamamu.
Dan jika suatu saat nanti aku menikah denganmu, aku ingin lebih banyak ruangan untuk buku-buku, mungkin juga tempat baca. Sofa empuk? Aku harap bisa memilikinya. Sebuah tempat dimana kita bisa membaca buku, dan kamu akan ada di pangkuanku.
Aku ingin rumah ini diisi cinta yang banyak namun cukup. Cukup untuk aku dan kamu, untuk orang lain, dan cukup untuk siapapun yang ada di Bumi.
Senin, 24 Februari 2025
Mengapa Nayla Alika Azmi Salah? Sebuah Catatan Pertarungan Komunikasi
Mengapa Nayla Alika Azmi Salah? Sebuah Catatan Pertarungan Komunikasi
Esai ini menjelaskan mengapa Nayla Alika dapat dinyatakan salah dan mesti meminta maaf. Dijabarkan secara struktrur dari latar belakang yang memuat masalah, pembahasan yang memuat penjabaran, dan penutup yang memuat kesimpulan.
Latar Belakang
Nayla Alika adalah seorang perempuan yang tanpa sengaja dipertemukan alam semesta beberapa tahun yang lalu. Tidak mengingat betul, namun perkiraan pertemuan dan perkenalan kami bermula diantara tahun 2023 dan 2024, disebabkan oleh kesamaan komunitas, yaitu Lombok Book Party. Nampak, terdapat kesamaan diantara kami, yaitu sama-sama menyukai membaca buku.
Perlahan, kami juga semakin dekat dan intens komunikasi. Sama-sama menceritakan tentang kehidupan atau saling menjelaskan perihal suatu hal. Akan tetapi permasalahan mulai muncul semenjak beberapa hal yang semestinya tidak menjadi masalah, menjadi masalah, dan alasan mengapa hal yang semestinya menjadi masalah menjadi masalah itu adalah keanehan, terutama untuk saya yang tidak peka.
Masalah yang saya maksud itu adalah masalah lamanya saya membalas pesan. Kadangkala pesan yang masuk dalam sosial media memang lama saya balas sebab satu, banyaknya pesan masuk, dua, kehidupan saya bukan hanya di sosial media, tiga, perasaan… pesannya udah saya balas deh, empat, efisiensi tenaga, lima, kerja dan beraktivitas, enam, tidak ada kuota, dan tujuh, kemerdekaan individu.
Akan tetapi hal ini kemudian menjadi masalah dan saya memakluminya. Sebagai gantinya, saya menyematkan pesan Nayla sebagai sarana berkomunikasi yang baik, bijak, benar dan wadidaw. Komunikasi pun berjalan lancar sampai tiba-tiba Nayla menjelaskan bahwa WA-nya disadap sehingga si penyadap bisa mengetahui pesan-pesan yang masuk kedalam WA-nya. Saya menyarankan untuk membuka Youtube, namun ia menolak karena kuotanya tinggal 2 GB. Saya kemudian menyarankan untuk menggunakan uang di DANA, namun ia menolak.
Ini perempuan maksudnya apa dah…
Sampai suatu ketika pada minggu tersebut saya pulang dari Mataram ke Bajur, Bajur ke Praya dan Praya ke Kopang, selain itu saya mengejar beasiswa dengan keluarga yang tidak merestui, menjadi pemateri di sebuah organisasi yang kini terpecah, dan pada momen itu, dengan tubuh yang capai sebab berkegiatan, saya menemukan sebuah pesan masuk di SMS yang menanyakan kabar (dari Nayla), dan kemudian saya jawab;
ngantuk.
Tidak ada balasan dimanapun, baik di media sosial atau di media nasional. Sebab mengantuk dan capai, saya memutuskan untuk tidur. Namun ternyata, itu adalah masalah baru.
Oleh sebab itu, tulisan ini menjelaskan secara singkat disertai tuntutan beberapa poin, yaitu satu :
1. Saya tidak bisa dikatakan bersalah dalam kasus ini
2. Nayla Alika salah secara total dan harus klarifikasi dalam bentuk video
Pembahasan
Komunikasi adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia sebab hanya dengan komunikasi manusia bisa memahami sesamanya. Tidak hanya manusia, baik itu burung dan hewan-hewan, bahkan jamur sampai pohon pun berkomunikasi. Belakangan, penelitian menemukan fakta bahwasanya pohon berkomunikasi melalui akar mereka yang mana membuat kenyataan menghebohkan sebab ternyata tindakan-tindakan manusia di zaman lampau yang mempercayai alam berkomunikasi dengan caranya adalah hal yang benar.
Namun seiring berkembangnya kehidupan manusia, seiring itu pula komunikasi beradaptasi dan terkadang memendek untuk menunjukkan efisiensi. Rhenald Kasali dalam The Shifting menjelaskan bahwasanya kehidupan manusia kedepannya mengacu pada platform (Kasali, 2018). Pendapat Kasali ini dapat kita temukan di zaman sekarang yang mana manusia hidup di dalam media sosial dan terpolarisasi di dalamnya.
Whatsapp hingga saat ini menjadi salah satu platform media sosial yang paling digemari dan dibutuhkan sebab menawarkan efisiensi. Dibandingkan platform selainnya seperti Tiktok dan Instagram, Whatsapp berfokus kepada komunikasi sementara lainnya berfokus pada entertainment atau hiburan.
Terlepas dari hal tersebut, manusia adalah manusia yanga mana kehidupannya tidak hanya berbasis kepada media sosial belaka, melainkan kehidupan nyata. Kendati wawasan akan Metaverse yang digagas Mark Zuckenberg memberikan kita sedikit pandangan akan masa depan, namun nyatanya manusia lebih cenderung hidup di kehidupan nyata dan menikmati apa yang ada di dalamnya.
Oleh sebab itu, adalah hal yang tidak adil untuk menilai manusia berdasarkan kehidupan media sosialnya tanpa mengetahui kehidupan nyatanya. Orang yang memposting hal-hal menyenangkan di media sosial belum tentu benar-benar senang di kehidupan asli mereka, Davidowits dalam Everybodies Lies mengemukakan bagaimana manusia baik di kehidupan asli dan maya jauh berbeda sebab kebanyakan manusia di media sosial menunjukkan sisi palsu mereka, atau hematnya, berpura-pura.
Sementara itu, majunya dunia teknologi juga semakin membentuk umat manusia efisien dalam bekerja maupun berbicara. Terjadi penyingkatan besar-besaran dalam berbagai aspek kehidupan berkomunikasi manusia dan kemudian dilabeli dengan bahasa gaul. Sony Tan dan Suherman (2020) menyebut proses normalisasi semacam ini sebagai new normal, yang mana pada awalnya semua kebiasaan tersebut ditentang namun kemudian banyak yang setuju dan menggunakannnya sehingga menjadi kebiasaan. Dalam komunikasi, istilah panjang correct me if I am wrong disingkat CMIIW, for your information sebagai FYI, dan banyak lagi yang lainnya.
Dalam permasalahan kasus dengan Nayla, hal ini juga merupakan hal yang serupa. Pertama, sebagaimana Davidowits yang menjelaskan bahwa kehidupan media sosial tidak bisa menjadi acuan kehidupan asli manusia, maka tidak bisa juga kita nilai manusia serta kondisi-keadannya berdasarkan ‘chat’ belaka. Kedua sebagaimana fenomena penyingkatan kata yang terjadi, bukan berarti menjadi sebuah bentuk ketidaksukaan atau benci.
Sangat perlu digarisbawahi bahwasanya permasalahan yang terjadi merupakan kasus salah tangkap atau misintepretasi Nayla terhadap chat yang saya berikan. Pada pertengahan Februari kesibukan saya memang banyak, tidak hanya menjadi pemateri, namun juga ikut andil dalam kegiatan-kegiatan menyelamatkan literasi bangsa. Belum lagi masalah mental yang diawali keluarga-keluarga di rumah.
Melalui komunikasi di media sosial, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi misintrepertasi Nayla. Beberapa diantaranya adalah melaui SMS sebagaimana berikut:
![]() |
| Gambar 2.1 Komunikasi dengan Nayla Alika via SMS, dan dia tidak membalas pesan |
Pada gambar 2.1 tersebut dapat diketahui bahwasanya kami masih melakukan komunikasi. Jum’at, 7 Februari pukul 21.54 saya menjelaskan bahwasanya saya masih memiliki acara dan kemudian menanyakannya ‘apa kamu nggak apa-apa?’, dan dia tidak menjawabnya. Ya, dia mengacangi saya. Kedua, pada Kamis, 13 Februari, tepatnya pukul 14.56 saya bertanya ‘Kamu nggak apa-apa?’ dan tidak dibalas. Benar, saya dikacangi kembali. Dan pada 18 Februari, tepatnya hari Selasa pada pukul 20.38 dia mengechat kembali TANPA MEMBALAS PESAN-PESAN SAYA SEBELUMNYA dengan mengatakan ‘kakak oke kah?’. Sebagaimana saya kemukakan sebelumnya, kehidupan media sosial tidak bisa menggambarkan secara penuh kehidupan nyata, maka saya menjawab ‘ngantuk’, yang mengindikasikan bahwasanya saya capai dan mau istirahat. Namun apa yang terjadi kemudian? Tidak ada balasan pesan. Sebab tidak ada balasan pesan, saya kemudian mengechatnya ‘halooo’ dan tidak ada balasan lainnya.
Dalam SMS yang lain, dengan nomor yang berbeda. Pada hari Rabu, 19 Februari, pukul 11.06 Nayla Alika kembali memberikan pesan dan menanyakan kabar, ‘are you okay?’, dan saya jawab ‘fineeeeee’. Tidak ada pesan berikutnya sampai pukul 16.46, yang memberikan pesan ‘aku kurang sehat kunyuk’ yang mengindikasikan bahwa ia sedang sakit dan kemudian saya balas pada pukul 20.21 ‘ya mana tahu’. Namun sebab tidak ada pesan lanjutan, saya mengingatkannya untuk istirahat pada pukul 22.03 (kurang baik apa saya coba?).
![]() |
| Gambar 2.2 Komunikasi via SMS lainnya dengan Nayla |
Sementara di kehidupan media sosial, Whatsapp misalnya, saya cenderung mengasingkan diri dan menonaktifkan Whatsapp sebab gempuran keluarga. Sementara Instagram fokus pada pengembangan akun berbasis meme. Selain itu, Whatsaapp Nayla Alika juga sempat kena hack atau sadap, yaitu pada tanggal 17 Februari 2025. Hal tersebut membuat komunikasi pada akun Whatsappnya yang satuan tidak bisa digunakan. Akhirnya, komunikasi pun menggunakan satu akun. Namun, pesan berakhir semenjak saya bilang bahwa saya masih ada kerjaan. Tidak ada balasan lagi setelah itu.
![]() |
| Gambar 2.3 Bukti bahwa saya cepat membalas pesannya disertai keterangan yang jelas |
Balasan berikutnya terjadi pada akun yang sudah di hack tersebut, tepatnya pada hari Minggu, 23 Februari dengan pesan sekali lihat. Setelah saya balas, Nayla kemudian memberikan long text panjang statemennya, berikut pesannya:
sekarang mau keluarin alasan apa lagi? sibuk? ngantuk? infj? apa? coba sekali kasih adek alasan yang bisa adek terima lagi, yang bisa adek maklumi lagi. Dibanding adek, lebih sibuk siapa? adek mana kuliah, mana kerja, mana urus ponaan, tugas adek juga menumpuk, tapi kalau untuk kakak adek ada. Adek di atas gunung merapi, di tengah gawean badaruwihi saja adek bakal tetep cari kakak, gimanapun caranya. Ngantuk? dibanding adek siapa yang lebih ngantuk? adek juga ngantuk seharian kecapean beraktivitas malamnya insomnia, siapa yang lebih ngantuk?. INFJ? kita sepakat kok kakak INFJ, dan adek sangat bisa maklumi itu, tapi sampai kapan? ...Padahal, adek selalu bilang setiap kita begini, setiap adek merasa keberatan, setiap adek merasa tertekan dengan sikap kakak yang adek anggap "seenaknya" ini, kalau kakak mau bilang nggak juga bilang, biar adek tahu adek posisikan diri gimana, tapi kakak ngga jawab itu. Ok, adek anggap kakak 'mau' makaknya kakak lanjutkan. Tapi yang namanya anggapan ngga selalu benar, sekarang jadi lucu kan? hatinya untuk orang tapi sama kita, apa iya pelampiasan? lucu kan?
kita sepakat kalau adek masih berfikir anak-anak, kita sepakat kalau adek 17 tahun, kita sepakat adek ga paham apa-apa, kita juga sepakat adek ngga bisa menjadi 'standar' yang kakak pengen. Tapi, seandainya kakak tahu..apapun untuk kakak, adek tetap usahakan, adek selalu coba..itu karena apa? karena adek sangat sayang kakak, kakak tau dirinya di sayang, malah makin begini.. seenaknya, terlalu sering adek kasih toleransi, terus kakak pikir adek ngga bisa sakit hati begitu?... Bukan karena adek kecil, lalu adek ngga ngerti hal ini, bukan..
adek sewaktu-waktu juga bisa capek kayak kakak, bisa ngantuk, dan bisa jadi introvert lagi, tapi untuk kakak, apapun itu.. I'll try. Adek bahkan sering kesampingkan perasaan sendiri hanya sekedar untuk maklumi sikap kakak yang entah akan menerima diri sebagai 'infj' sampai kapan. Dulu, kalau belum siap direpotkan ngapain mulai? bukankah kakak yang memulai? ada apa? gabut? ga ada kerjaan lain? penasaran? apa mungkin di orang lain kakak juga begini?
sekarang ngomong aja deh, jujur aja deh, sebenarnya kakak melanjutkan semua ini untuk apa? ngapain? dan kenapa? di orang kakak bisa jujur, di adek kenapa ngga bisa kan?
biar adek ngga begini-begini terus...adek mau bilang capek, ini mungkin kata ke "4536272625338374638" yang kakak denger. Jadi ya udah, mau gimana lagi...adek capek itu, Iya. Tapi ngga ngomong juga lebih cape..mau adek ngomong ngamuk-ngamuk, perengat perengut kayak kemaren juga sama aja..kakak masih sama.. sekarang ngomong aja deh..biar kita sekali-kali berhenti, ga ada ujungnya begini. Jangan seenaknya terus...
Oleh sebab itu, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal ini terjadi. Hal ini juga menjadi closing point yang menjelaskan saya tidak bersalah, dan Nayla Alika Azmi, bersalah.
1. Nayla Alika Azmi, Misinterpretasi
Nayla mempercayai bahwa saya tidak menyayanginya bila saya tidak memberikan pesan sebagaimana ia memberikan pesan. Pesan ‘ngantuk’ yang saya berikan diinterpretasikan sebagai sebuah pesan menghujam dan benci, padahal maksud saya ‘iyaaa, nanti dulu aku balas pesannya, aku ngantuk sebab capek jadi aku mau tidur dulu, luuuuv muaaach’
2. Nayla Alika Azmi, Tidak Konsisten
Keberadaan dua akun membuat Nayla sebenarnya tidak konsisten, terlebih ketika akun komunikasi satuan di hack, sudah jelas saya akan komunikasi dengan akunnya yang satuan, namun jika pesan di akun yang tidak di hack hilang dan tidak menjawab? Macam mana? Disinilah ketidakonsistenan itu. Misalnya saja, jika pesan di akun yang di hack tiba-tiba muncul, bagaimana kita tahu bahwa itu Nayla atau bukan? Bagaimana itu bukan Nayla tapi ternyata tukang Nasgor yang ternyata intel dan menculik Nayla?
3. Nayla Alika Azmi, Kerasukan Iblis
Poin ini terlihat bercanda, namun ini benar adanya dan saya bisa memberikan buktinya. Pada suatu malam Nayla mengechat saya dan cerita bahwa ia tidak bisa tidur karena diganggu oleh jin, dan pesan berikutnya, ia menjelaskan bahwa iblis itu ‘masuk melalui hidungnya’, dan pesan berikutnya dihapus total.
![]() |
| Gambar 2.4 Bukti bahwa setan/iblis masuk melalui hidungnya Nayla Alika Azmi |
Berdasarkan fakta tersebut, besar kenyataan bahwa sebenarnya Nayla Alika Azmi sedang dirasuki oleh iblis. Pesan-pesan yang dihapus adalah bukti bahwa Nayla membutuhkan pertolongan namun sebab ia dikontrol oleh iblis, ia menghapus semua pesan itu. Pesan ‘ini dia masuk ke hidung adek’ adalah kesadaran terakhir Nayla sebelum dikendalikan oleh iblis. Turut berdukacita, Nayla.
Bagaimanapun juga, saya selalu membalas pesan Nayla, kendati tidak langsung dan membutuhkan waktu. Hmmmm.
Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa saya tidak bersalah, namun Nayla Alika Azmi, bersalah. Terdapat beberapa alasan mengapa Nayla bersalah, yaitu satu, tidak konsisten, misinterpretasi, dan tentunya, kemasukan iblis.
Oleh sebab itu saya menyarankan Nayla untuk di ruqyah, sebab kita tidak tahu apakah ia benar-benar Nayla, ataukah jin? Ataukah masih di kontrol Iblis? Selain itu, saya memberikan tuntutan kepada Nayla untuk memberikan video klarifikasi dan menyatakan bahwa dirinya bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Njir, ada daftar pustakanya WKAKAKKAKA
Ciee yang baca sambil senyum tapi kesel, WKAKAKAKAK
![]() |
| Ada-ada saja. |
Selasa, 06 Februari 2024
Kepada Diriku Aku Meminta Maaf
Kepada Diriku Aku Meminta Maaf
Aku minta maaf, sungguh. Aku meminta
maaf pada diriku sendiri. aku membawa diriku pada jalan ini, membuatnya
terlunta-lunta, menyeret kepahitan, membawa perasaan sakit itu sendiri,
memendamnya, membiarkannya pudar di dalam, kemudian meledak, aku menangis. Aku…
aku… ini semua salahku! Namun aku telah memilih jalan ini, dan aku juga tidak
mau kembali. Hanya saja sakit, sakit ini mengikutiku kemapanapun aku pergi,
perasaan sepi, kesendirian, perasaaan terasingkan, perasaaan hancur, perasaan
ingin mengeluarkan semuanya melalui bentuk tangisan, aku memendamnya dalam
kesendirian, dan aku masih berlagak kuat, merasa hebat, tersenyum dan tertawa,
namun tekanan itu, namun tekanan itu begitu terasa, benar-benar menikam dan
membuat diriku merasa muak.
Aku ingin hidup namun tidak ingin
hidup yang sepeti ini, dan pun aku mau hidup seperti itu tetapi tidak mau melakukan
cara yang seperti ini. Paradoks bukan? Namun aku tidak punya pilihan, hanya
saja, aku merasa jatuh, aku merasa hancur. Bahkan hancur pun aku dalam
kesendirian. Dan lagipula, setiap cowok, setiap manusia, harus bertanggung
jawab atas apa yang telah ia lalui, namun apakah selamanya aku akan melalui
ini, tersendat-sendat di jalan, terluka, menempelkan kepala pada tembok,
menangis? Mengapa hidup mesti tentang perjuangan dan penerimaan, jika memang tujuannya
hanyalah kenikmatan belaka? Tuhan, entah desain mana yang telah kau buat dalam
hidupku, entah keajaiban mana, tetapi rasa ini, ya ampun, rasanya memekik dan mencekik,
aku mau hidup lebih lama, namun akankah selamanya dengan jalan ini ya Tuhan?
Bukan kehidupannya, melainkan perasaan yang tidak bisa aku kendalikan.
Rasa yang membelenggu,
menendangku, mengulitiku, hiduuup, hiduup, teriakku. Namun aku merasa hanya kesunyian,
maafkan aku, maafkan aku, telah kubawa jiwa dan ragaku dalam kesendirian dan kepecundangan, dan aku
gagal, sekali lagi, gagal.
Maafkan aku.
Apakah kamu bahagia?
Tanya diriku, mungkin jiwaku.
Bbrapa kali, iya, namun tidak
sebanyak yang kukira.
Jika itu buat kamu bahagia,
jalani. Namun jika tidak, lihatlah.
Apa yang mesti aku lihat, jalan
itu, jalan itu… kemanakah akhirnya, kearah baikkah atau tidak? Dan apakah ada
jalan lain untuk kesana, selain jalann yang kamu tempuh saat ini?
Mungkin ada, namun aku tidak
merasakan itu, aku rasakan hanya tekanan.
Mungkin kamu overdosiss,
kelebihan tekanan.
Apa kaksudmu, aku tetrekan?
Kurang lebih seperti itu,
habisnya, kamu selalu memaksa diri, menuyksa diri, padahal kamu lemah.
Aku, lemah? Iya,, bahkan sangat
lemah. Tapi kau masih bisa jadi kuat.
Bagaimana caranya?
Ini tubuh kita, dan aku hanya
jiwamu, maka cari tahulah sendiri.
Senin, 18 Desember 2023
Tentang Kita Yang Berharap Mati Hari Ini
kutulis kisah kita hari ini
namun tak dapat kujadikan ia kata
tanganku tercekat,
tak dapat menari seperti hari kemarin
apakah gerangan?
bertanya aku dalam sunyi
yang dijawab juga oleh sunyi
‘ah, kamu sudah tinggalkan kegiatan ini sejak lama’
‘menyelingkuhi aku dengan kegiatan yang lain’
‘lucu sekali, kamu. berkata bahwa kamu bermimpi untuk hal
ini’
‘tapi kamu tinggalkan aku dibelakang’
‘dan orang-orang, mengejar impiannya’
‘meninggalkan kamu di belakang’
‘menyedihkan sekali bukan?’
‘bahkan sampah sekalipun lebih berharga’
‘daripada kamu’
kumakan perkatannya
kutelan dalam-dalam
namun tidak sedikitpun aku merasa diinjak
oh, duhai harga diri? kemana kamu pergi
maka harga diri pun menjawab
‘tak sudi aku, hidup didalam kamu’
‘banyak omong kosong’
‘tong kosong’
‘bodoh’
‘tolol’
‘bahkan tuhan pun menyesal ciptakan kamu’
‘matilah, entah dengan gantung diri’
‘atau melompat pada tempat-tempat tinggi’
‘dan balutlah dirimu dengan kain kafan’
‘dan galilah kuburanmu sendiri’
‘hanya dengan itu kamu tidak akan jadi penyusah’
‘dan dunia akan terus berjalan’
‘tanpa kehadiranmu’
‘dan mereka akan tetap tertawa’
‘tanpa kehadiranmu’
maka kuambil tali dan pisau, berpikir seperti apa aku mati
kemudian datanglah aku
dipeluknya aku,
‘nggak apa-apa, kamu udah sejauh ini’
‘akhir tahun sebentar lagi, dan bukan ide bagus untuk mati’
‘alkohol dan rokok, dopamin dan adrenalin’
‘kamu udah sejauh ini, apa kamu mau bertahan lebih lama
lagi?’
‘keajaiban datang kepada mereka yang menunggu’
‘maka menunggulah, lebih lama’
‘sedikit lebih lama’
‘mungkin kamu akan temukan cahayanya’
kujawab ia dengan berbisik,
‘aku muak’
‘mungkin mengakhirinya adalah jalan yang terbaik’
‘tidak akan ada lagi aku’
‘tidak akan ada lagi kamu’
‘dan momen saat kita pergi, menghilang’
‘akankah ada yang akan menangisi’
dan logika, dari pojokan ruangan, muncul dan berkata
‘mati pun kamu masih mengharapakan orang lain’
‘mati pun kamu masih memikirkan orang lain’
‘bodoh, tolol’
‘mati ya mati’
‘hidup ya hidup’
‘jangan ada orang lain lagi’
‘hanya ada kamu, dan pilihan kamu’
‘tidak ada tuhan, hanya ada kamu dan pilihan’
dan musik-musik bermunculan, bersama rasa syukur dia
melompat
‘sebelum kamu mati? maukah kamu mendengar musik untuk
terakhir kalinya?’
aku persilahkan dan ia mulai berbunyi,
dan buku melompat dari lemari,
‘sebelum kamu mati, maukah kamu membacaku untuk terakhir
kalinya?’
maka kupersilahkan ia ke pangkuanku
lalu puisi dan tulisanku, muncul dari kertas dan laptop,
‘sebelum kamu mati, maukah kamu menyelesaikan aku terlebih
dahulu?’
maka kuambil pena dan kuselesaikan puisiku
maka tanganku menari diatas keyboard laptop,
sekali lagi,
menulis tentang kamu.
‘aku telah selesaikan semuanya, aku mau mati’
peta muncul dan berkata,
‘belum, kamu belum pergi ke tempat favorit kamu’
‘disini dan disini’
‘dan kamu belum mendaki gunung ini juga’
aku sedih, kemudian berkata,
‘kalau mengerjakan semua itu, aku tidak bakalan mati.
‘sementara aku mau mati, saat ini’
dan kopi datang bersama gelas dan stoples gula
‘sebelum kamu mati, maukah kamu meminum aku,’
‘untuk terakhir kalinya?’
aku marah,
‘kalian menjengkelkan!’
‘aku mencoba banyak hal’
‘dan gagal, dan gagal’
‘aku mencoba bertahan’
‘tapi aku juga mau semuanya berakhir’
‘aku sendirian’
‘aku kesepian’
‘begitu ramai diluar sana’
‘tapi mengapa aku merasa sendiri?’
‘aku mau semuanya berakhir disini’
‘bunuh aku, akhiri semuanya’
‘tidak akan ada lagi aku’
dan setan keluar dari alam ghaibnya,
‘sialan! kalian semua menghalangi pekerjaanku!’
‘bunuh dirilah! masuklah kedalam neraka!
‘jadilah keraknya! terbakarlah bersama batu dan manusia
lainnya!’
dan malaikat muncul dari alam ghaibnya,
‘duhai setan! kamu melanggar konstitusi!’
‘kamu sama saja seperti manusia di negara ini’
‘tapi kamu memang setan sih’
‘tapi kamu melanggar konstitusi akhirat’
dan kamarku ramai,
buku-buku yang lain bermunculan, meminta untuk dibaca
puisi dan tulisanku bermunculan, meminta untuk diselesaikan
dan tempat-tempat favoritku di bumi, bermunculan untuk
dikunjungi
dan kopi-kopi,
dan mimpi-mimpi,
malaikat dan setan,
tentang kebebasan dan konstitusi,
ah, tahi anjing
kalau begini, aku mau mati di lain hari
nggak hari ini,
mungkin besok nggak seramai hari ini
dan aku, memeluk diriku sendiri
‘ah, ya. kita memang sudah sejauh ini’
Puisi Bunga Diatas Kuburan
Ayah,
Aku cuma mau bilang bahwa aku terbakar habis
Dan setiap hari aku merasa diriku menjauh dari apa yang
kuinginkan
Juga menjauh dari apa yang kau inginkan
Di kamar yang sumpek
ini
Aku tetap mencoba bernapas dan tersenyum
Dan kala aku keluar kamar
Aku melihat dunia tetap berjalan tanpaku
Ayah,
Aku nggak sepenting itu kan?
Dan apakah ada artinya aku ada dan tidak?
Lalu jika memang aku tidak penting itu,
Mengapa aku dilahirkan?
Hari demi hari aku hancur dari dalam
Mencoba merangkak naik
Namun hitam ini memelukku
Ayah, aku ingin menenggak belati
Yang akan masuk lewat mulutku
Menuju kerongkongan
Masuk kedalam ulu hati
Lalu pertanyaan-pertanyaan berseliwaran
Air mata diatas kuburan
Bunga-bunga yang tidak pernah aku dapatkan
Dan dunia berjalan,
Tanpaku
Sebab aku nggak sepenting itu
Jumat, 08 Desember 2023
Thrifting Yang Gagal, Amira, dan Balada Leadership
8 Desember, pagi. Tepatnya hari
Jumat dan aku telat bangun. Padahal sebelumnya aku telah berencana untuk
ngethrift pagi ini dan bertanya kepada Zulaikha tentang tips trik ngethrift di
Karang Sukun.
Dari ucapannya, aku ambil beberapa poin, satu:
“pertama kamu harus pake bahasa Sasak, umumnya harga disana tinggi-tinggi jadi kamu harus bisa nawar sampai harga serendah-rendahnya”
Well, ini menarik. Aku sudah siap
tempur. Penggunaan bahasa Sasak kurasa digunakan agar aku bisa berbaur dengan
masyarakat sini. Karena berhadapan dengan orang Sasak maka aku akan menggunakan
adat istiadat Sasak. Artinya aku tidak boleng datang kesana terus menunduk
seperti orang Jepang dan berkata “Ohayo Gozaimaaaasu!”
Soalnya, selain dikira kesurupan
sama orang Jepang, cuma takut aja pedagang disana malah akan balas “Ikeh-ikeh!”
Terkait poin kedua untuk menawar pada titik terendah, aku telah siap adu bacot. Aku siap banting-bantingan dengan mamang-mamang disana, adu boxing sekalian. Sebelumnya aku juga belajar teknik Ackerman, jadi aku akan bersiap-siap mengalahkan mereka dengan drama-drama yang akan buat pedagangnya kasih harga gratis! Slebew!
Yap, kali ini aku adalah Levi Ackerman dan dia adalah
Titan abnormal yang telanjang dan bego!
Pesan kedua Zulaikha berbunyi
“Jangan pake tas kuliah, gunakan pakaian yang biasa, compang camping kalau perlu. Jangan pake pakaian kuliah, jangan pake pakaian formal, pake baju mainmu!”
Okeh. Cocok! Sebelumnya aku juga
pernah tanya kepada Kamin bagaimana untuk ngethrift di Karsuk, dan dia mengatakan
kepadaku untuk menggunakan pakaian bola. Baik Zulaikha dan Karmin, memiliki
satu kesamaan, gunakan pakaian yang biasa.
Ketika Karmin mengatakan trik
tersebut waktu itu, aku hampir membawa kesebelasan main bola agar benar-benar
kelihatan kek orang biasa, namun untungnya nggak jadi karena kesibukan
masing-masing. Pesan Kamin waktu itu satu, pastikan kamu kesana tidak tahu
tentang fashion.
Dan poin dari kedua Zulaikha ini,
satu: terlihatlah biasa. Jangan terlalu formal, dan jangan norak. Misalnya
kalian main kesana pake baju ala Hitler, tidak boleh, itu terlalu formal. Atau
mungkin kalian kesana (agar terlihat nggak tahu fashion) malah menggunakan bawahan
rok warna kuning, baju pink, terus di kepala ada celana dalam nyantol warna ungu. Nggak
boleh. Itu terlalu norak dan dibuat-buat, dan bukannya ngethrift, lu bakal
dikeroyok massa karena dikira jelmaan Mimi Peri.
Compang-camping kalau perlu
seperti kata Zulaikha, artinya lu bener-bener kelihatan kek orang miskin.
Bahkan kalau bisa, biar lebih realistis, lu harus datang nggak hanya pake
pakaian kusam dan nggak mandi selama tujuh hari, tapi juga bawa sekarung beras
dibelakang punggung sambil berjalan kek orang tua injak tahi sapi; terseok-seok.
Paslah malam itu bersiap-siap.
Dan paginya, aku kelolosan.
Dan begitulah, untuk ketiga
kalinya dalam hidup, aku gagal ngethrift.
Zulaikha ketika di kelas nanya
kepadaku “Gimana Zis? Jadi ngethrift?”
“Aku kelolosan” ucapku, watados.
***
Tapi kampretnya adalah, ada hal
yang unik pagi itu, sebuah mimpi yang buat aku kelolosan dan nggak jadi ngethrift
untuk pertama kalinya dalam hidup. Dan mimpi itu aneh betul.
Saat itu pertandingan bola, dan
yang main bola adalah raksasa-raksasa, beberapa orang seperti Blackbeard,
Whitebeard, Kaido dan Bigmom, juga ikut main bola. Enggak tahu kenapa
dreamworldku tiba-tiba didatangi karakter-karakter kampret dari One Piece.
Main bolalah mereka, dan kala itu
ada bangunan-bangunan, saat aku kesana aku malah ketemu Amira, si cewek kacamata.
Dan disana juga ada Ibnu, aku nggak ingat beberapa part dan drama apa yang
terjadi. Yang jelas, Ibnu mengangkat Amira dari belakang dan dada Amira kena
kayu, ketika diturunkan, luka hitam jelas banget didadanya.
Amira langsung tereak nangis kejer
kek kakinya kejepit pintu kulkas “HUAAAAAA…..BAPAAAAAAAAAAAAK!”
Ibnu kabur.
Tinggal aku, dan nggak tahu harus
apa, akhirnya aku datang kedepannya dan peluk dia.
Yap, peluk dia.
Dia masih nangis emang, dan kala
itu tiba-tiba saja ada seorang kakek tua. Aku meminta bantuannya untuk
mengobati Amira dan akhirnya Amira diletakkan diatas dipan, karena dadanya
terluka maka pakaiannya dilepas, dan aku cukup kaget…kok…nggak ada buah dadanya
ya? Rata aja gitu kek balok.
Perlahan aku telusuri dari
dadanya, ke pusar, ke baw….
AAAAAAAAAAAAH…..PENIIIIIS!
NJIR DIA PUNYA PENIIIIS!
Dia lanang cuy! Cowok! Cowok yang
pake jilbaaaaab!
Dan setelah itu, kapanpun aku
keinget Amira, ketemu Amira, aku jadi ilfil.
Masih nggak nyangka juga kalau
dia punya penis yang unyu-unyu.
***
Leadership! Sebelum UAS kami
dipertemukan lagi dengan perkuliahan Leadership. Hal yang menarik hari ini
adalah bahwasanya dalam perkuliahan kami dituntun untuk membuat tim. Akhirnya
aku dan Asrul maju, sebelumnya, aku pernah troll Mariya.
“Ayo! Siapa yang maju” perintah
pak Adin
“Aziiis, ayo Aziiis!” ucap kawan-kawanku,
kek manggil monyet.
“Indah aja! Kepala suku!” balasku,
namun Indah tidak mau
Sebab aku duduk dibelakang dan
ada Mariya di depanku. Ide jahat muncul di kepalaku.
“MARIYA AJA PAK!”
“AAAAAAAH! NGGAAAAAAAK!”
Teriaknya keras banget njir,
seolah kalau kedepan dia akan jadi istrinya pak Adin secara langsung.
Tapi kalau dipikir-pikir, keren
juga sih. Si Mariya teriak” AAAAA….NGGAAAK! tapi lumayan sih, punya sugar
daddy! Ehe!” *sambil kedipin mata
Akhirnya semuanya pun menjadi
random. Akulah yang maju, dan secepat kilat temen-temenku ambil timnya
masing-masing kek main Mobile Legend. Aku telah bersekongkol dengan Ivan untuk
satu tim, namun hancur karena imannya goyah akibat Mia dan Jer.
Akhirnya, aku sekali lagi team up
sama dua ncup itu. Dan Ivan team up sama Mariya dan Zulaikha. Megan kusatukan
dengan Ziya dan Indah, yang lain aku satukan dengan yang nggak Indah.
Hal yang kocak adalah Zar yang
datang tepat waktu, ikut sama kita, dan malah kena usir karena kelas D disuruh
masuk belakangan. Kocak betul. “Hey, aku gini-gini ketua Romusha di sekolahku!”
ucapnya.
“Masyaallah, siapa tahu kamu
adalah keturunan nabi! Pasti ada habib dibelakang namamu!” ucapku
“Hm, aku tahu! Kamu pasti
keturunan nabi Ya’kub!” balas Ivan.
“Keturunan Fir’aun”
Begitulah hari berlalu. Satu hal
yang menarik, Ivan secara sengaja berkata “Mariya, sebenarnya aku ada perasaan
sama kamu”
Namun Mariya tidak menggubris,
Zulaikha diam, mungkin merasa kalau Ivan becanda. Tapi sebagai sahabat, aku
langsung berdiri.
“Ayo Mariya! Aku siap jadi
penghulunya!”
***
Malam ini aku berencana membeli kertas Vinyl, aku bahkan
nyari di Google Maps dan dibawa ke jalan Aneka di Udayana. Seru malam-malam
ketika nggak ada keperluan berjalan-jalan. Waktu itu juga aku sedang menyasar
rektor untuk penurunan UKT.
Namun sayang, aku malah ke
Airlangga, beli buku. Dua buku yang aku beli dengan harga murah: Espresso karya
Bernard Batubara, dan Karung nyawa karya Haditha. Harganya 15.000 dan 10.000.
Siapa yang nggak mau beli?
Esok kita akan camping, jadi aku
perlu istirahat.
Rabu, 06 Desember 2023
Aku Usai Titi, AKU USAAAAAAAAI
Perlahan, semua terlihat memudar;
Impian, harapan, cita-cita, asa, semuanya. Aku malah terlihat seperti sebuah
kapal titanic besar nan angkuh, dan tepat didepanku ada sebuah bongkahan es
raksasa yang menunggu. Aku menabraknya, patah jadi dua, hancur berkeping-keping.
Aku jatuh dalam samudera yang gelap dan dingin bersama impian-impian yang aku
miliki.
Tidak tahu juga mengapa aku
mengawali tulisan ini dengan paragraf seperti itu, mungkin sebab proposal yang
aku tulis belum ada satupun batang hidungnya, mungkin karena kawan-kawanku
telah berlari jauh sementara aku tertinggal dibelakang, mungkin karena aku
berjalan terlalu pelan, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Namun aku berusaha, tentu, aku
berusaha. Aku berusaha tetap bernapas diantara gempuran segalanya, tentang
kehidupanku yang monokrom dan ampas, tentang perasaan yang membatu dan tidak
bisa aku miliki. Dalam urusan ini kawanku berkata untuk menunggu, namun aku telah
menunggu terlalu lama, setiap detik, jam, bulan, dan tahun. Aku bahkan tidak
lagi menghtung telah berapa banyak purnama. Aku terjatuh, rebah, terluka menatap
bintang. Aku terbakar pada rumput ilalang, aku usai, aku ingin segalanya usai,
aku berakhir, tertikam, digenjet oleh batu-batu. Aku pengen teriak, baiklah aku
akan teriak: AAAAAAAAAAAAAH!
Tapi kampretnya perasaan ini
tidak bisa keluar, ia mendekam terlalu dalam, sangat dalam sampai aku bahkan
bingung harus apa. Aku, aku mungkin butuh pertolongan, seseorang, seseorang,
tapi dalam kehidupan kita yang sibuk, saat manusia-manusia lainnya juga sibuk
dengan urusan mereka masing-masing, apakah meminta pertolongan adalah hal yang
tepat? Aku berusaha, namun semuanya nampak meninggalkan aku terbakar diatas
rumput ilalang. Seseorang, seseorang, seseorang mungkin semestinya membunuhku,
agar aku tidak lagi menghirup napas-napas harapan dan asa. Agar aku mati
semati-matinya.
Dalam keniscayaan dan keputusasaan
ini aku menulis. Dalam diamku, dalam senyumku yang bahkan tidak aku tahu palsu tidaknya.
Aku tertikam. Atau mungkin aku perlu menaburkan bensin disekujur tubuhku agar
sekali lagi aku usai diatas rumput ilalang ini.
Orang-orang telah seperti kereta
api yang berjalan jauh dengan suara bising-bising mereka, dan aku masih berdiam
diri, menatap mereka menjauh. Aku melihat mereka seperti perahu mungil dengan
layar-layar terkembang bahagia, melintasi laut dan samudera, singgah pada benua
satu ke benua lainnya. Sementara aku disini, menjadi kapal Titanic yang karam
ditengah jalan. Patah jadi dua, masuk kedalam samudera.
Dalam diamku, aku hanya berpikir
bagaimana semua bergerak begitu cepat, meninggalkan kita di masa lalu. Kita semua
melumut menunggu masa-masa itu, sesuatu yang kita kejar tapi menjauh. sesuatu
yang pada akhirnya usang, dan noda-noda hitam pada baju, debu-debu yang ada
pada wajah. Semuanya…semuanya…mengapa begitu jauh?
Tapi mungkin benar. Beberapa orang
di dunia ini diciptakan untuk sendirian dan bergulat dengan rasa sepi. Beberapa
manusia di dunia ini akan selamanya berada pada lingkarannya sendiri dan tidak
dapat keluar dari lingkaran itu. Selamanya mereka akan disana, berdiri sampai
akhir waktu, kemudian perlahan usang dan mati. Perlahan, terbunuh. Beberapa
orang itu akan tetap ada disana, dalam kesendirian dan kesunyian, dalam kesepian
yang akan selamanya merangkak. Mereka akan hidup dalam dunia yang monokrom,
tempat dimana semuanya abu-abu, tanpa warna. Mereka akan habis masa, terbunuh
sebab tertikam, atau mungkin yang paling menyedihkan, terbunuh sampai habis
usia.
Mereka tidak memiliki kawan,
tidak memiliki lawan, hanya ada dirinya dan waktu.
Dan sayangnya, orang itu jugalah
aku.
Maka ajarkanlah aku tentang
warna-warna, tentang keramaian, tentang segala yang membuat apiku menyala
kembali. Dan padang ilalang terbakar yang kita lewati, menyisakan abu untuk
bunga-bunga baru bertumbuh. Tempat kita tertawa dan menari, tempat hanya aku
dan kamu.
Disini.
Cowok dan Sosial Media Jam 12 Malam
Aku terbangun pada shubuh-shubuh
betul, dan hujan lagi garang-garangnya diluar. Guntur menggaung kayak kambing
kayang di kaki langit, kilat-kilat menyambar kayak fotografer, hujan menyerang
kayak taju kage bunshin Naruto, kuyang lewat, sapi goyang dumang, ceilah!
Intinya shubuh itu dingin banget
dan si ketum Danil lagi tepar setelah semalaman belajar tentang proposal untuk
Metode Penelitian. Karena ngulang kelas, akhirnya dia berhadapan dengan si
metopen, bigbossnya semester 5. Sampai saking bigbossnya, dulu teman kelasku
sampai nangis saat naik semester, mereka peluk-pelukan, jatuh, terus
guling-guling di tangga PGMI. Gila betul!
Tetapi balik lagi ke hujan tadi,
aku kemudian tertantang dan perlahan membuka baju sehingga otot-ototku yang
kekar menunjukkan diri (branding dikit biar keren, hehe), dengan sarung yang
masih menempel, aku mendorong gerbang agar terbuka, menatap langit yang hitam
legam dengan hujan deras yang seperti cinta kamu ke dia.
Aku kemudian berjalan dibawah
hujan, melawan rintikan air itu, menantangnya. Andai mereka seukuran sapi dan
bisa hidup, aku dan dia pasti sudah gelud. Begitulah pagi dimulai dengan segala
kekampretannya.
Tapi emang dingin banget. Aku
maksa tetap dibawah hujan dan berada pada pancuran yang airnya jatuh dari atap.
Aku mengoles tubuhku dengan sabun sembari tetap didalam pancuran. Rasanya, beuh,
dingin tapi asoy.
Hal yang membagongkan adalah
sebab sedari malam aku mencoba tidur tapi tetap tidak bisa tidur. Nggak tahu
kenapa. Akhirnya sepanjang malam aku scroll Tiktok, buka Facebook untuk cari
meme, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dan nggak tahu kenapa, percaya atau tidaknya
beberapa media sosial akan menunjukkan watak aslinya kalau malam. Coba deh
jangan tidur semalaman dan jangan kedip sama bernapas, besoknya pasti kamu tewas.
Itu pernah dicoba sama almarhum kawanku.
Maksudku begini, entah kenapa
media sosial kalau malam itu menjadi aneh dan abstrak. Tiktok kalau siang hari
isinya edukatif semua, tentang kekayaan, kesuksesan, rekomendasi buku dan film,
cara menjadi guru, cara dapat pekerjaan, cara magang di lampu merah, cara
manggil Baphomet, cara kudeta presiden, dan hal-hal edukatif lainnya.
Sementara kalau malam kampret
banget! Iyo, yang muncul adalah kebalikannya. Dari perempuan joget sampai
laki-laki joget, dari bapak DPR yang joget sampai presiden joget. Emang aneh,
kok bisa malam-malam joget struktural itu bisa muncul. Dan nggak tahu kenapa,
media sosial kalau malam-malam itu pasti memunculkan cewek cantik, cakep, dan
bohay.
Disitu aku menyadari bahwa media
sosial sudah diibaratkan pasar, cuma kalau malam, jadi pasar malam, dan kalau hari
senen, jadi pasar senen. Hehe. Dan masalahnya adalah, kita sebagai konsumennya akan
susah lepas dari perangkap-perangkap genjutsu itu.
Bayangkan aja kalau lu adalah
cowok yang berantem sama ceweknya tiap hari, sehabis maghrib lu kalah main togel,
lose-streak di ML, terus buka Tiktok jam 1 malam dan cewek-cewek brutal itu
muncul sambil goyangin pantat kek bebek. Halusinasi cowok pasti keganggu, dan
harapan mereka untuk menang pasti berubah menjadi pertanyan; kok gue gagal ya.
Setelah ini mereka pasti akan—setidaknya—bakar
rokok, kaki naik sebelah, hirup rokok terus buang ke langit, terus goyang pargoy.
Media sosial itu sok tahu
keinginan manusia, tapi mereka nggak bener-bener tahu. Hanya diri kita yang
tahu tentang diri kita sendiri, emang bener sih media sosial kadang menawarkan
solusi, tapi kampret tahinya itu cuma teori, sementara aksi hanya bisa
dilakukan oleh diri kita sendiri.
Jadi kalau lu cowok, terus malam-malam
stress, gabut, depresi sambil buka media sosial. Insyaf bro.
Dan balik lagi ke peristiwa hujan,
aku pada akhirnya balik setelah entah berapa lama kehujanan. Dengan fisik yang tidak
stabil akibat begadang, kemudian shubuhnya mandi hujan, kalian pasti tahu apa
yang akan terjadi.
Yak betul, besoknya aku kena flu.
Tapi alhamdullilah sih, daripada
kamu kena bisul, yahahahhaha.





