Minggu, 27 Juli 2025

Kamis, 24 Juli 2025

Sinta 2

25 Juli 2025

Hari ini sosialisasi kurikulum 2025. Pak Firmansyah memberitahu kami tentang hal-hal yang harus kami pilih jika ingin menjadi akademisi atau praktisi. Tentu, aku mengambil akademisi yang tujuannya adalah dosen.

Hal paling mengejutkan adalah bagaimana kami yang angkatan 2025 mesti menerbitkan Sinta 2. Serius? Baru masuk sudah harus nerbitin Sinta 2?

Alamak!

Maka pada akhirnya aku bertanya kepada pak Firmansyah terkait hal itu. Jawabannya, aku harus memahami tentang Meta Analysis. Beliau juga sempat menjelaskan tentang Meta sintetis.

Jadi, teknik meta analisis ini adalah sebuah teknik yang seringkali dipakai di masa-masa ini, jadi kemungkinannya diterima di Sinta lebih banyak.

Meta analisis terbagi dua, kuanti yang akan mengacu ke Statistika, dan Kuali, yang akan mengacu ke Kajian Empiris dan kesimpulan.

Well, ini menurutku akan menarik.
bentar, kek kenal dua makhluk diatas.

Oh, hari ini juga tum Danil datang. Aku memberitahukannya tentang pakaian dari Lilis, namun ia malah memberikannya kepadaku.

Entahlah, hidup bisa seanjay itu.

Tum Danil juga, akan ngebut ngerjain skripsi sebab aku segera pergi.
Foto dari Tum Danil 

Share:

Jumat, 11 Juli 2025

Mimpi Advokat?

Tadi malam aku memimpikan suatu hal yang unik, menjadi seorang advokat. Memang belakangan mimpi yang datang ketika aku tidur agar rada-rada aneh. Misalnya, aku pernah mampir ke toko buku di Jawa, kemudian pulang dari sana ke Lombok. Menarik. Sebab disana ada Gontor dan ponpes dll. Malam ini pun aku bermimpi menjadi seorang advokat. Aku mendamaikan orang-orang yang sedang berselisih. Sangat menarik. 

Paginya, aku menyelesaikan artikel rekomendasi buku self improvement. Hmmmm. Kini aku menulis rekomendasi buku sejarah.


Share:

Minggu, 06 Juli 2025

Berhenti S2?

Ketika aku sedang berpuasa, ibu menelpon kak Ali. perbincangan itu terjadi. Perbincangan itu adalah tentang aku yang akan kuliah apa tidak. S2. Sayangnya uang tidak cukup, belakangan kak Arif ditipu dan mobilnya diambil, membuatnya sakit. Biaya S2 besar, bisa ratusan. Bahkan sekitar 130 jutaan. Sementara uang bapak yang tersisa adalah 40-an. Disinilah pergulatan itu terjadi.

Kak Ali menyayangkan mengapa aku tidak kuliah S1 diluar saja, dan S2 bisa di dalam. S1 katanya adalah untuk mendapatkan pengalaman, S2 bisa sambi-sambi. Hanya saja sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, bapak juga sudah dikubur. Tidak ada artinya membahas lagi.

Aku telah mengatakan bahwa aku tidak mau kuliah dulu, aku mau mengabdi. Hanya saja aku dituntut untuk kuliah dulu biar nanti tidak terlalu tua. Tetapi semua memiliki pandangan tersendiri. Kak Ali berkata bahwa aku sebaiknya kuliah, tapi di Lombok. Kak Arif mau aku kuliah, tapi diluar. Kak Sol tidak mau aku kuliah, jika bukan beasiswa.

Inilah yang terjadi kalau kamu anak terakhir, dibesarkan dengan paternialistis, tidak diberikan banyak pilihan, dibuatkan panggung, bernyanyi sendiri. 

Aku berbicara dengan ibuku selepas telpon itu, dan perasaanku hancur. Bukan hanya karena impianku seharga 200 ribu, melainkan dendam yang pelan pelan ada dalam diriku. Kebencian. Benci yang menjalar melalui jantung, kebencian terhadap keluargaku, kehidupanku, dan dunia ini. Betapa ia menjalar begitu cepat seperti api memakan kayu.

Pun dari sekarang aku diminta mencari ceperan. Uang. Benar. Lagi-lagi soal uang. Bahwa aku bertanya pada ibu apa arti pendidikan aku? Apakah sekedar mencari uang? Jika iya, sebaiknya tidak perlu S2. Biarlah S2 menjadi takdir. Aku akan mendapatkan beasiswa. Namun mungkin ada tujuan selain itu?

Ibuku berkata bahwa 'hanya kamu sendiri yang tahu'. Tetapi aku sudah tidak ingin apa apa lagi, kehidupanku rasanya sudah tidak bermakna. Pun aku tidak tahu apa yang aku inginkan, menjadi apa, namun hal yang aku tahu, aku ingin membuat sebuah novel yang dengan novel itu banyak orang tersembuhkan. Aku ingin. Pelan-pelan. Entah kapan.

Aku ingin lebih kuat, jadi lebih kuat. Kemudian barangkali aku akan mati... Entahlah.
Share:

Rabu, 25 Juni 2025

glimpse

Dalam ketidakpastian, dan kebingungan memilih apa diantara yang mana. Namun hidup harus terus bergerak. Pun juga, kalah adalah bagian dari hidup, mesti diterima dengan selapang lapangnya.


Share:

Selasa, 24 Juni 2025

Selamat Menikah Bq. Lina Hayati

Lina menikah hari ini, untuk kalian yang tidak mengenalnya, dia adalah temanku ketika SD, anak yang selalu berada di posisi pertama kelas, disusul Yupita dan Yati Sukma. Rankingku? Nyempil kek tahi gigi.

Hal yang unik adalah, bahwa beberapa hal seperti bocil Velocity, nama Lina yang sebenarnya Auksar apalah, dan kedatanganku yang ternyata cuma sendiri. Kan lucu. Kalau fotoan bisa kek nyamuk, bahkan bisa dianggap orang ke 3.

Yang datang juga kek syeikh-syeikh atau orang alim. Seperti penghafal Al-Quran, itu tamu cowok. Tamunya Lina? Benar. Sebab ia menggunakan cadar, maka tongkrongannya orang yang mengenakan cadar juga. Hal ini jauh berbeda denganku yang hanya mengenakan kemeja, hampir pengen pinjam cadar untuk bisa fotoan sama mereka.

Hingga saat ini, aku masih nunggu temen. Kok nggak muncul-muncul. Dahlah, namanya juga hidup.

Quote yang kudapat hari ini : lelaki yang baik adalah yang baik kepada istrinya. Jika orang mengatakan bahwa lelaki itu tidak baik, tetapi istrinya mengatakan dia baik, maka sungguh lelaki itu baik. Begitupula sebaliknya.

see? So many jubah panjang people.
Share:

Senin, 23 Juni 2025

Masih Bertanya

Perang sudah ada di depan mata, nampak sudah tidak bisa dihindari lagi. Pengeboman Amerika ke Iran bisa menjadi pemicu yang baik. Pertanyaannya, apakah sebaiknya aku ikut militer untuk belajar disiplin? Atau ikut perang karena aku merasa hidupku kurang menantang dan berarti?

Kadangkala aku merasa semangatku ketika saat remaja menuju dewasa, mungkin SMA ke S1 awal begitu membara. Aku pernah menulis 300+ lebih esai waktu itu, hanya saja sekarang aku merasa berkarat. Kupikir, memiliki tempat untuk memacu diri, menghancurkan diri sendiri, mati, bukanlah ide yang buruk bukan?

Pun juga, aku ingin tahu apakah aku benar-benar memiliki jiwa, beberapa rasanya terasa kosong. Aku butuh sebuah tempat untuk hidup kembali. Tetapi, aku tidak tahu. Dimana tempat itu, dapatkah kita menciptakannya?

Masih bertanya-tanya.
Share:

Minggu, 22 Juni 2025

Sebuah Catatan 21-23 Juni

Kadangkala, aku hanya bisa meminta maaf pada diriku sendiri. Pun aku tidak tahu mengapa, hanya karena aku terlalu keras? Atau hanya karena aku terlalu malas. Aku tidak bisa membedakannya. Harapanku, kedepannya akan lebih baik.

Catatan ini aku tulis 24 Juni, 2025, tepatnya hari Selasa. Kemarin sempat ada informasi bahwa Bq. Lina Hayati menikah dengan Erick, dan pernikahannya akan dilaksanakan hari Rabu besok, 25 Juni.
Catatan sebelumnya, 21-23 Juni, tertulis:

Belakangan aku ketagihan bermain Zombie Forrest 3, gamenya cukup unik, sayangnya bukan tantangan yang baik untukku. Aku segera mampu menamatkannya dalam beberapa hari, bahkan melalui aplikasi Stayfree, aku pernah memainkannya lebih dari 4 jam sehari, bahkan 8 jam 33 menit 39 detik pada 21 Juni 2025. Yeah, begitulah. Tetapi 23 Juni kemarin, aku menghapusnya. 

23 Juni kemarin juga, aku membuat video bersama bocil untuk melengkapi video membaca nyaring. Hasilnya, mengecewakan. Kenzhie pargoy di depan kamera, anak-anak susah fokus. Ah shibal! Video kedua lebih hancur lagi, dan dua hari lagi, aku butuh sebuah buku cerita, dan tiga anak untuk didongengkan.
Share:

Selasa, 17 Juni 2025

Betapa Rindu Kadangkala Muncul Melalui Tabir Waktu

 

Pun kadangkala aku memikirkannya. Aku memikirkan sekaligus merindukan bagaimana aku dulu bisa menulis banyak kata, merindukan bagaimana ketika aku masih di pondok mampu menulis ragam tulisan dan karya. Memang, aku berkembang, beberapa prestasi aku toreh, tetapi rindu itu tidak bisa aku bohongi. Aku mengingat malam-malam di Pena Santri, ketika aku menulis dan menyelesaikannya ketika shubuh mulai datang, mengemas barang, dan berangkat untuk sholat shubuh berjamaah.

 Aku merindukan masa-masa yang mana kita hanya perlu menikmati apa yang ada, sebuah tempat kita merasa cukup. Sementara kini, kurasa, kendati tidak benar-benar peduli, tuntutan itu semakin ada disana-disini. Ia mengepungku seperti hyena mengepung kelinci. Aku tak bisa mengelak. Pun juga, tidak ada pilihan selain melawannya. Berdiri, menghadapinya.

Malam ini pukul 12:57, sembari menulis ditemani Fahmi yang sedang bermain Mobile Legend, dengan lagu Andra and The Backbone ‘Sempurna’, dan tarian-tarian jari di atas keybord ini, aku kembali merindu.

Betapa kenangan masa lalu seringkali muncul melalui tabir-tabir waktu, yang tersingkap dalam memori, melalui gambar dan orang-orang. Melalui cerita dan titik-titik waktu.

Kadangkala, aku ingin kembali ke masa-masa itu, tetapi waktu mesti terus bergerak maju.

 

Share:

Kamis, 08 Mei 2025

Sebuah Catatan dari Seorang Beban Keluarga


Sebuah Catatan dari Seorang Beban Keluarga

Setel musik dulu nggak sih?


Kalau kamu membaca tulisan ini, berarti ulang tahunku sudah semakin dekat, dan aku akan melakukan hal yang sama seperti orang-orang pada umumnya; melakukan refleksi, merenung, mengurung diri dalam kamar dan ngomak-ngamuk sembari mempertanyakan satu hal; betapa tidak bergunanya aku dalam hidup ini.

Mei tahun 2024 adalah ulang tahun terburuk sebab disanalah ayahku meninggal tanpa sempat melihat toga di atas kepala, dan kepergiannya membuat aku merasa kosong. Aku merasa gagal. Aku jatuh dan molor untuk wisuda, aku tak merasa berarti dan merasa tahun-tahun perkuliahan adalah tahun-tahun yang sia-sia. Aku tak mengingat bahwa aku telah menjadi ketua HMJ, aku tak mengingat bahwa aku telah menjadi bagian kaderisasi di PMII, aku tak mengingat bahwa aku telah memiliki prestasi-prestasi, menulis ratusan lebih artikel saat menjadi mahasiswa, atau tak juga mengingat bagaimana orang-orang berterima kasih kepadaku. Semuanya terasa kosong dan nyaris tanpa makna. Momen itu aku menyadari bahwasanya aku tidak hanya kehilangan sesosok ayah, tetapi kehilangan sebagian makna hidupku.

Satu-satunya cara aku bertahan saat itu adalah dengan membaca buku; menggunakan 50% dari gaji untuk membeli buku-buku yang aku mau, duduk di atas kursi sepanjang hari dan terus membaca, menulusuri kalimat demi kalimat, menyusur kata, membelah paragraf. Bab demi bab yang kosong dengan hati yang belum terisi. Maka pada bulan ini aku telah bersiap-siap dengan segala hal yang buruk, misalnya saja kaki kejepit pintu atau tiba-tiba Dajjal datang sambil joget Samba. Barangkali, aku telah siap.

Aku percaya bahwa selama aku membaca buku dan belajar, berdiskusi, dan bertemu dengan orang-orang hebat maka aku akan terus bertumbuh. Namun, apakah itu benar-benar kemauanku? Apakah aku benar-benar berarti dan layak hidup? Aku mengingat Ace di anime One Piece yang dijebol Akainu, dan pada momen itulah ia memahami bahwa dirinya sangat berharga. Lalu pertanyaan kepada diriku sendiri; apakah aku akan tahu bahwa diriku berharga jikalau aku mati nanti, barangkali saat sebuah insiden atau masa-masa sekarat, melihat sekilas hidup yang aku jalani; apakah aku sudah cukup baik menjadi seorang hamba untuk bertemu dengan kekasihnya? Aku mempertanyakan itu.

Namun aku juga hidup di dunia yang realistis, sebuah dunia yang memandang manusia satu dengan manusia lainnya atas asas statistik dan angka. Di dunia ini, jika kita tidak memiliki uang, kita tidak akan dianggap. Perempuan dan wanita terkadang sangat kejam kepada lelaki miskin. Di dunia ini, IPK dan skor pelajaran seolah sangat berarti untuk menentukan bahwa orang itu berguna atau tidak, dan hal yang paling lucu; anak-anak juga dilihat sebagai bisnis, ia adalah saham berjalan untuk orangtua mereka, dan orangtua akan berinvestasi pada anaknya melalui susu saat bayi, biaya makan dan pendidikan, atau sejenisnya, dan sebab orangtua adalah donatur, dan sebab anak dianggap sebagai saham, maka ia memiliki hak untuk mempertanyakan hasil dari investasinya, sebuah profit maupun keuntungan, atau apalah namanya.

Maka inilah masalahnya. Tuhan tak pernah menurunkan kalkulatornya di Bumi sehingga kebaikan-kebaikan dan cinta tak dapat dikalkulasi. Menurutku itu adalah blunder yang dilakukan oleh Tuhan sebab orang-orang mempertanyakan makna mereka; seorang pengangguran yang membantu nenek menyebrang jalan, seorang pengais sampah wanita yang menahan diri agar tidak memakan sebungkus nasi yang ia miliki sebab ada anaknya yang menanti di rumah. Aku percaya bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang baik, orang-orang baik yang terkadang juga mempertanyakan apakah kebaikannya sudah cukup untuk dianggap bermakna. Sebagaimana mereka, aku juga mempertanyakan hal yang sama.

Tahun ini aku setidaknya masih bisa berprestasi, masih bisa membantu kawan-kawanku meminang gelar-gelar di kampusnya, masih bisa melihat orang-orang yang sempat aku didik berprestasi, diundang jadi pemateri, dan masih bisa mempertahankan idealisme agar orang-orang mempercayai bahwasanya Tuhan belum mati dan tidak pernah tertidur. Namun seperti kataku tadi, apakah itu sudah cukup? Beberapa kebaikan tidak berbekas dalam bentuk angka, ia hanya kembali kepada Tuhan Yang Maha Mengingat, dan aku percaya bahwa Tuhan mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah diberikan manusia kepada manusia, alam, dan sekitarnya.

Hanya saja tanpa angka-angka dan gelar, tanpa hasil yang bisa ditunjukkan, aku ingin tahu apakah kebaikan-kebaikan itu memiliki makna, sebab kebaikan tidak pernah menjadi statistika. Namun aku berharap, setitik air yang aku berikan kepada orang lain bisa membuat Tuhan tersenyum, dan tentu saja, bisa membuat ayahku bangga.

Tahun ini diiringi dengan percekcokan keluarga yang aku sudah bodo amat, dan usaha-usaha diriku untuk bisa menjadi lebih baik. Sebagaimana manusia lainnya, aku tetap berusaha walau banyak gagalnya, aku mencoba mendaftar beasiswa, masih mencoba mempertahankan diri untuk berbuat baik, masih menjadi pengangguran dengan ide bisnis yang akan kami jalankan bulan depan, masih berusaha menulis dan menjadi konten kreator, dan masih mencoba untuk mendengarkan cerita orang lain kendati aku akan melemparkan sedikit humor agar membuat dirinya tertawa.

Tahun ini aku membuat komunitas Laron, menjadi WAPIC di LBP, dan karyaku terpilih untuk diterbitkan sebagai buku. Tentunya;

Aku masih hidup sebagai manusia dengan gagal jatuhnya. Semoga yang baik berbiak, dan semoga keberkahan tercurahkan kepada kita selalu. Salam cinta dariku untuk diriku, salam cinta dari Tuhan untuk semesta alam.

 

Untuk Allah, Tuhan yang aku cintai dan aku sayangi; percayalah walau aku tidak akan pernah sesuci nabi Muhammad Saw. walau aku berlumur dosa dan seberapa besar pun aku berusaha menjadi baik, aku masih tidak merasa pantas menyebut diriku sebagai seorang kekasih, aku masih tidak merasa pantas bahkan untuk mendapatkan janji-janji surgamu, apalagi duduk di emperannya. Pun aku juga tidak merasa pantas untuk menerima kasih sayang yang selalu engkau berikan tanpa aku meminta, juga aku tidak pernah merasa pantas menerima semua yang engkau titipkan padaku. Suatu saat nanti jika engkau bertanya tangan, kaki, mata, pikiran ataupun mulut ini aku gunakan untuk apa semasa hidup, aku juga tidak tahu menjawab apa, sebab aku selalu merasa tidak pernah cukup untuk menebus satu mili kebaikanMu, bahkan menebus dosa jika ia dianggap sebagai hutang. Sebagai hambaMu, aku selalu berharap bisa membuatMu tertawa maupun bahagia, tetapi komediku barangkali tidak akan pernah lucu, sebab engkau Maha Tahu.

Ya Allah, untuk kakek, nenek, dan ayahku yang telah meninggal dunia. Padamu aku meminta agar mereka disayang dan dihapus dosa-dosanya, kemudian dimasukkan kedalam surga Firdaus. Intinya surga Firdaus, hambamu ini tidak mau surga yang lain.

Dan satu lagi, aku mau menitip pesan kepada ayah dan permintaan maaf; anakmu gagal menjadi mahasiswa terbaik, ia gagal mendapatkan IPK 4.0 sebagaimana yang ayah harapkan saat aku semester 3. Katakan kepadanya bahwa ia masih gagal banyak hal di dalam hidup, masih ceroboh dan tergopoh-gopoh, masih sering lupa, masih suka menonton anime dan lalai. Katakan kepadanya bahwa aku mencintainya, dan masih berusaha melampaui ayah dalam segala hal seperti prestasi, ketenaran, finansial, dan kebaikan. Katakan kepadanya bahwa aku selalu mencoba, namun aku masih banyak gagalnya.

Ini adalah Sebuah Catatan dari Seorang Beban Keluarga pada bulan Mei untuk menyambut ulang tahunnya yang ke-24. Semoga yang baik berbiak, semoga cinta dan kasih tercurah dari segala penjuru semesta. Oh, Tuhan, jadikanlah aku cahaya.

Terimakasih telah membaca.

Share:

Jumat, 25 April 2025

Membuat Laporan Observasi

Belakangan banyak yang memberikan pesan dan bertanya tentang ‘bagaimana melakukan observasi di sekolah?’, kemudian, pertanyaannya adalah bagaimana formatnya?. Well, kedua pertanyaan tersebut sebenarnya tidak sulit-sulit amat, namun sekiranya perlu diketahui biar tidak salah tulis biar hasilnya manis, uhuy!

Pertama, kita akan membahas dulu pertanyaan yang pertama; Bagaimana melakukan observasi?

Hal pertama yang harus dilakukan adalah bertanya kepada diri sendiri atau melihat tugas yang diberikan terkait ‘hal yang akan diobservasi’. Dalam melakukan observasi tugasnya bisa macam-macam, apakah yang diobservasi adalah cara mengajar guru? Kelengkapan sekolah? RPP atau Silabus? Pelaksanaan program sekolah? Kesiapan siswa atau murid? Atau barangkali tukang cilok yang mangkal di depan sekolah? 

Hal tersebut perlu diperjelas agar jangan-jangan tugasnya adalah mengobservasi guru di sekolah tapi yang dilihat adalah tukang mamang cilok yang ada di depan sekolah. Kenapa penting? Satu, nanti nilai bisa jeblok. Kedua, nanti mamang ciloknya bisa ge’er.

Jadi perlu ditahu dulu hal yang perlu di observasi. Jika yang di observasi adalah sekolahnya? Maka observasinya juga banyak, namun bisa sekali turun. Data bisa diminta di TU sekolah, foto-foto bisa di ambil sendiri, dan RPP maupun silabus juga diminta.

Namun jika yang di observasi adalah cara mengajar? Maka itu beda lagi. Perlu adanya cheklist tentang bagaimana guru mengajar. Apakah ia menggunakan RPP? Apakah gurunya interaktif? Apakah gurunya memiliki manajemen kelas yang bagus? Apakah murid suka dengan penjelasan guru? Banyak. Jika murid yang di observasi, juga bisa dengan pertanyaan-pertanyaan sejenis.

Maka dari itu, perlu tahu secara jelas ‘hal yang di observasi’.

Untuk memperjelas hal yang di observasi, maka perlu sekiranya dibuat LEMBAR OBSERVASI.

Jadi, pembahasan kedua adalah tentang lembar observasi.

Simplenya lembar observasi mencakup hal-hal yang terdapat saat melakukan observasi, wujudnya bisa macam-macam, misalnya dalam bentuk cheklist ada/tidak, atau bisa juga sering/kadang-kadang/tidak pernah, atau iya/tidak. Bisa dalam bentuk pertanyaan dan jawaban, dan lainnya.

Lembar observasi memang mencakup hal yang di observasi, dan pengisiannya bisa nanti saat membuat laporan, bisa juga saat di tempat.

Ketiga, Bagaimana menyusun hasil Observasi?

1. Cover yang berisi logo UIN, Nama observer dan NIM (Pastikan ini ada biar dosennya tidak bingung kasih nilai siapa), dan tentu saja Fakultas dan Prodi kita tercinta.

2. Halaman pengesahan (Kalau ada)

3. Kata Pengantar 

4. Daftar Isi

5. Lampiran (Saya tidak tahu lampiran diletakkan paling depan atau paling belakang observasi, yang jelas taruh saja) Dalam lampiran inilah ditaruh foto-foto observasi. Misalnya data murid, data guru, piagam sekolah, sesi wawancara, murid, bebas. Kalau mau taruhin foto kamu pelukan sama pacar juga boleh, tapi nilainya anjlok ayayayayyaya

6. BAB I PENDAHULUAN, Bab ini berisi Latar Belakang, Tujuan Observasi, Manfaat observasi (Misal, mahasiswa bisa mengetahui/memahami), dan tempat observasi.

7. BAB II Hasil Pelaksanaan Observasi, Disini ditulis hal-hal yang telah di observasi berdasarkan lembar observasi. Apakah wawancara soal iya/tidak, apakah sering/kadang-kadang/ jarang atau tidak pernah? Bebas.

8. BAB III : PENUTUP yang mencakup kesimpulan dan saran


Bisa tidur deh!

Begitulah.

Kalau salah gimana kak?

Santuy aja, namanya juga belajar.

Tugas itu yang penting jadi, kalau salah? Yaaaa, namanya juga belajar.

Kuncinya satu; dengerin dosen.


Filenya bisa di download disini (Nggak menjamin laporannya benar, namanya juga dibuat pas masih seumuran kalian, wkakaka): LINK DRIVE LAPORAN.  

 

 


Share:

Kamis, 24 April 2025

Pagi ini Aku Awali Dengan Rindu

Pagi ini aku awali dengan rindu, pada pukul 05:37 aku sedang mengetik tulisan ini setelah sebelumnya menyeduh secangkir susu dan sebelumnya lagi membaca buku Cara-Cara Terbaik Mengajarkan Matematika yang ditulis Randi Stone.

Hanya saja kerinduanku kepada sang ayah muncul, barangkali buku matematika itu menjelaskan sebuah skema bagaimana ayahku jago matemtaika, sementara aku harus berjuang habis-habisan untuk mempelajarinya. Barangkali juga karena pagi ini aku duduk sembari menikmati keadaan, dan bahwasanya hidup mesti disyukuri.

Hanya saja aku merindukan ayah kendati ia telah pergi. Aku merindukan senyum atau ucapan-ucapannya, aku merindukan segala hal-hal yang berkaitan dengan dan merindukan bagaimana cinta yang semestinya aku ungkapkan tidak akan mungkin lagi bisa aku sampaikan. Bahkan jutaan bunga di atas batu nisan tidak akan mengubah kenyataan bahwa orang yang kita cintai telah pergi.

Pagi ini aku awali dengan secangkir susu dan sekelumit rindu. Perasaan lainnya adalah ketakutan aku terhadap IELTS yang akan segera aku laksanakan. Aku sangat taku bilamana aku akan gagal, aku dipenuhi keraguan, namun baarangkali takut dan ragu adalah bagian dari hidup yang harus aku tapaki. Sebuah langkah—bagaimanapun jua—harus tetap dilakukan. Barangkali aku juga akan terluka dan terseok-seok, namun hidup adalah hidup, dan sebagaimana mimpi yang dipertaruhkan, ia hanya bisa didapatkan bilamana kita memenangkannya.


Share:

Jumat, 18 April 2025

Suatu Saat Jika Aku Menikah Nanti….

 Suatu Saat Jika Aku Menikah Nanti….

Jika suatu saat aku menikah, aku ingin membeli kasur yang empuk untuk istriku, mungkin cukup besar untuk kami, mungkin juga cukup untuk kami bermain. Aku ingin kasur itu empuk agar kami bisa tidur nyaman, agar istriku bisa istirahat, dan agar istriku bisa bangun dengan perasaan penuh sukacita. 

Suatu saat jika aku menikah nanti, aku akan terbangun dengan melihat orang yang paling cantik sedunia, yang ada disampingku, yang ada dihadapanku. Kala aku membuka mata, aku akan menjadi orang yang paling bersyukur sebab bisa menjadi milikmu, dan bersyukur sebab diantara jutaan lelaki yang bisa kamu pilih, kamu memilih aku. Barangkali aku juga akan iseng mencium bibir atau keningmu, atau mungkin meletakkan tangan kananku di pipimu.

Sautu saat nanti jika aku menikah, aku ingom sebuah mesin cuci yang bisa mengeringkan pakaian-pakaian basah. Aku ingin kegiatan mencuciku lebih efektif, aku ingin kegiatan lain bisa kita lakukan dengan lebih cepat. Aku ingin kita menjemur baju, dan aku harap sinar matahari bisa menjangkau kita berdua sebab aku ingin lebih sehat jika bersamamu. 

Barangkali, entah teras, ruang tamu, atau meja makan. Aku juga ingin memilikinya. Aku ingin kita menghabiskan makanan dan santap-santap berdua disana. Jika pada akhirnya meja makan itu tidak bisa kita miliki, jika ternyata rumah kita terlalu kecil untuk sebuah meja. Aku ingin kita makan satu lantai bersama. Kamu dan aku, dengan lauk pauk, dengan nasi hangat yang baru kita ambil dari rice cooker, dengan sayur bayaram dan brokoli, dengan senyuman kamu di hari itu, ah, indahnya…

Suatu saat nantu jika aku menikah, aku ingin kita lebih banyak berkomunikasi dan berbicara, aku ingin kita  lebih banyak menunjukkan cinta dan tak malu-malu saat melakukannya. Aku harap aku bisa sedikit lebih romantis karena aku orangnya kaku dan kikuk, namun aku ingin tetap bersyukur setelah aku memiliki kamu, hidupku jadi lebih bewarna pelangi dan merah jambu.

Jika pada suatu saat nanti aku pada akhirnya menikah. Aku ingin kamu tahu bahwa barangkali aku masih sempat berpikir bahwa kau  akan jauh lebih bahagia jika bersama orang lain, hal yang kadangkala membuatku sedih dan gundah, dan mulai mempertanyakan, apakah aku bisa membuatmu lebih bahagia dibandingkan kemarin? Aku ingin tahu apakah tujuanku menikah sudah benar; bahwa tujuanku adalah untuk membuat kamu bahagia, dan aku ingin , kebahagaiaan itu cukup untuk kamu, cukup untuk aku, cukup untuk siapapun yang ada di rumah ini, dan cukup untuk siapapun yang terlahir dari rahimmu.

Suatu saat nanti jika aku menikah, aku berharap memiliki rumah yang tidak terlalu besar, namun tidak juga terlalu kecil. Sebuah rumah yang pas dengan tanah-tanah yang bisa kita tanami tumbuhan cabai atau mungkin pohon-pohon jambu. Jika boleh, aku ingin menanam durian atau alpukat, dan jika boleh juga, jeruk atau rambutan. Aku bukanya ingin membuat rumah kita seperti hutan, aku hanya ingin bahwa di masa tua kita, kita masih bisa hidup santai, tanpa harus terlalu peduli dengan riauh riuhnya dunia yang selalu bergerak cepat dan mempermasalahan hal-hal sepele.

Suatu saat nanti jika aku menikah denganmu, aku berharap bahwa kita bisa melalui kebosanan -kebosoanan yang akan ada, barangkali ia muncul tiap hari dan tiap waktu, namun harapanku adalah aku ingin kita bisa melewatinya dan sadar bahwa sebuah hubungan panjang tidak hanya diisi oleh keseruan-keseruan belaka, melainkan juga ketahanan kita akan kebosanan, dan bagaimana kita berupaya untuk terus bersama.

Sauatu saat jika aku menikah nanti, aku berharap bahwa uangku cukup untuk membeli hal-hal yang kita butuhkan, hal-hal yang bisa membuat kita tidak terlalu bekerja keras untuk uang, hal yang bisa membuat kita tidak terlalu khawatir akan esok hari, hal yang membuatku ingin hidup untuk saat ini, di tempat ini, bersamamu.

Barangkali aku juga akan belajar bagaimana bisa romantis bersamamu, dan aku harap sebagaimana aku yang menerima kamu dengan masa lalumu, kamu nisa menerima aku dengan masa laluku.

Dan dosa-dosa, semoga menjadi hal yang kita tinggalkan di esok hari. Hari ini, aku ingin lebih lama bersamamu.

Dan jika suatu saat nanti aku menikah denganmu, aku ingin lebih banyak ruangan untuk buku-buku, mungkin juga tempat baca. Sofa empuk? Aku harap bisa memilikinya. Sebuah tempat dimana kita bisa membaca buku, dan kamu akan ada di pangkuanku.

Aku ingin rumah ini diisi cinta yang banyak namun cukup. Cukup untuk aku dan kamu, untuk orang lain, dan cukup untuk siapapun yang ada di Bumi.


Share:

Senin, 24 Februari 2025

Mengapa Nayla Alika Azmi Salah? Sebuah Catatan Pertarungan Komunikasi

Mengapa Nayla Alika Azmi Salah? Sebuah Catatan Pertarungan Komunikasi

Esai ini menjelaskan mengapa Nayla Alika dapat dinyatakan salah dan mesti meminta maaf. Dijabarkan secara struktrur dari latar belakang yang memuat masalah, pembahasan yang memuat penjabaran, dan penutup yang memuat kesimpulan.

Latar Belakang

Nayla Alika adalah seorang perempuan yang tanpa sengaja dipertemukan alam semesta beberapa tahun yang lalu. Tidak mengingat betul, namun perkiraan pertemuan dan perkenalan kami bermula diantara tahun 2023 dan 2024, disebabkan oleh kesamaan komunitas, yaitu Lombok Book Party. Nampak, terdapat kesamaan diantara kami, yaitu sama-sama menyukai membaca buku.

Perlahan, kami juga semakin dekat dan intens komunikasi. Sama-sama menceritakan tentang kehidupan atau saling menjelaskan perihal suatu hal. Akan tetapi permasalahan mulai muncul semenjak beberapa hal yang semestinya tidak menjadi masalah, menjadi masalah, dan alasan mengapa hal yang semestinya menjadi masalah menjadi masalah itu adalah keanehan, terutama untuk saya yang tidak peka.

Masalah yang saya maksud itu adalah masalah lamanya saya membalas pesan. Kadangkala pesan yang masuk dalam sosial media memang lama saya balas sebab satu, banyaknya pesan masuk, dua, kehidupan saya bukan hanya di sosial media, tiga, perasaan… pesannya udah saya balas deh, empat, efisiensi tenaga, lima, kerja dan beraktivitas, enam, tidak ada kuota, dan tujuh, kemerdekaan individu. 

Akan tetapi hal ini kemudian menjadi masalah dan saya memakluminya. Sebagai gantinya, saya menyematkan pesan Nayla sebagai sarana berkomunikasi yang baik, bijak, benar dan wadidaw. Komunikasi pun berjalan lancar sampai tiba-tiba Nayla menjelaskan bahwa WA-nya disadap sehingga si penyadap bisa mengetahui pesan-pesan yang masuk kedalam WA-nya. Saya menyarankan untuk membuka Youtube, namun ia menolak karena kuotanya tinggal 2 GB. Saya kemudian menyarankan untuk menggunakan uang di DANA, namun ia menolak. 

Ini perempuan maksudnya apa dah…

Sampai suatu ketika pada minggu tersebut saya pulang dari Mataram ke Bajur, Bajur ke Praya dan Praya ke Kopang, selain itu saya mengejar beasiswa dengan keluarga yang tidak merestui, menjadi pemateri di sebuah organisasi yang kini terpecah, dan pada momen itu, dengan tubuh yang capai sebab berkegiatan, saya menemukan sebuah pesan masuk di SMS yang menanyakan kabar (dari Nayla), dan kemudian saya jawab; 

ngantuk.

Tidak ada balasan dimanapun, baik di media sosial atau di media nasional. Sebab mengantuk dan capai, saya memutuskan untuk tidur. Namun ternyata, itu adalah masalah baru.

Oleh sebab itu, tulisan ini menjelaskan secara singkat disertai tuntutan beberapa poin, yaitu satu :

1. Saya tidak bisa dikatakan bersalah dalam kasus ini

2. Nayla Alika salah secara total dan harus klarifikasi dalam bentuk video


Pembahasan

Komunikasi adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia sebab hanya dengan komunikasi manusia bisa memahami sesamanya. Tidak hanya manusia, baik itu burung dan hewan-hewan, bahkan jamur sampai pohon pun berkomunikasi. Belakangan, penelitian menemukan fakta bahwasanya pohon berkomunikasi melalui akar mereka yang mana membuat kenyataan menghebohkan sebab ternyata tindakan-tindakan manusia di zaman lampau yang mempercayai alam berkomunikasi dengan caranya adalah hal yang benar.

Namun seiring berkembangnya kehidupan manusia, seiring itu pula komunikasi beradaptasi dan terkadang memendek untuk menunjukkan efisiensi. Rhenald Kasali dalam The Shifting menjelaskan bahwasanya kehidupan manusia kedepannya mengacu pada platform (Kasali, 2018). Pendapat Kasali ini dapat kita temukan di zaman sekarang yang mana manusia hidup di dalam media sosial dan terpolarisasi di dalamnya. 

Whatsapp hingga saat ini menjadi salah satu platform media sosial yang paling digemari dan dibutuhkan sebab menawarkan efisiensi. Dibandingkan platform selainnya seperti Tiktok dan Instagram, Whatsapp berfokus kepada komunikasi sementara lainnya berfokus pada entertainment atau hiburan.

Terlepas dari hal tersebut, manusia adalah manusia yanga mana kehidupannya tidak hanya berbasis kepada media sosial belaka, melainkan kehidupan nyata. Kendati wawasan akan Metaverse yang digagas Mark Zuckenberg memberikan kita sedikit pandangan akan masa depan, namun nyatanya manusia lebih cenderung hidup di kehidupan nyata dan menikmati apa yang ada di dalamnya.

Oleh sebab itu, adalah hal yang tidak adil untuk menilai manusia berdasarkan kehidupan media sosialnya tanpa mengetahui kehidupan nyatanya. Orang yang memposting hal-hal menyenangkan di media sosial belum tentu benar-benar senang di kehidupan asli mereka, Davidowits dalam Everybodies Lies mengemukakan bagaimana manusia baik di kehidupan asli dan maya jauh berbeda sebab kebanyakan manusia di media sosial menunjukkan sisi palsu mereka, atau hematnya, berpura-pura.

Sementara itu, majunya dunia teknologi juga semakin membentuk umat manusia efisien dalam bekerja maupun berbicara. Terjadi penyingkatan besar-besaran dalam berbagai aspek kehidupan berkomunikasi manusia dan kemudian dilabeli dengan bahasa gaul. Sony Tan dan Suherman (2020) menyebut proses normalisasi semacam ini sebagai new normal, yang mana pada awalnya semua kebiasaan tersebut ditentang namun kemudian banyak yang setuju dan menggunakannnya sehingga menjadi kebiasaan. Dalam komunikasi, istilah panjang correct me if I am wrong disingkat CMIIW, for your information sebagai FYI, dan banyak lagi yang lainnya.

Dalam permasalahan kasus dengan Nayla, hal ini juga merupakan hal yang serupa. Pertama, sebagaimana Davidowits yang menjelaskan bahwa kehidupan media sosial tidak bisa menjadi acuan kehidupan asli manusia, maka tidak bisa juga kita nilai manusia serta kondisi-keadannya berdasarkan ‘chat’ belaka. Kedua sebagaimana fenomena penyingkatan kata yang terjadi, bukan berarti menjadi sebuah bentuk ketidaksukaan atau benci.

Sangat perlu digarisbawahi bahwasanya permasalahan yang terjadi merupakan kasus salah tangkap atau misintepretasi Nayla terhadap chat yang saya berikan. Pada pertengahan Februari kesibukan saya memang banyak, tidak hanya menjadi pemateri, namun juga ikut andil dalam kegiatan-kegiatan menyelamatkan literasi bangsa. Belum lagi masalah mental yang diawali keluarga-keluarga di rumah.

Melalui komunikasi di media sosial, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi misintrepertasi Nayla. Beberapa diantaranya adalah melaui SMS sebagaimana berikut:

Gambar 2.1
Komunikasi dengan Nayla Alika via SMS, dan dia tidak membalas pesan

Pada gambar 2.1 tersebut dapat diketahui bahwasanya kami masih melakukan komunikasi. Jum’at, 7 Februari pukul 21.54 saya menjelaskan bahwasanya saya masih memiliki acara dan kemudian menanyakannya ‘apa kamu nggak apa-apa?’, dan dia tidak menjawabnya. Ya, dia mengacangi saya. Kedua, pada Kamis, 13 Februari, tepatnya pukul 14.56 saya bertanya ‘Kamu nggak apa-apa?’ dan tidak dibalas. Benar, saya dikacangi kembali. Dan pada 18 Februari, tepatnya hari Selasa pada pukul 20.38 dia mengechat kembali TANPA MEMBALAS PESAN-PESAN SAYA SEBELUMNYA dengan mengatakan ‘kakak oke kah?’. Sebagaimana saya kemukakan sebelumnya, kehidupan media sosial tidak bisa menggambarkan secara penuh kehidupan nyata, maka saya menjawab ‘ngantuk’, yang mengindikasikan bahwasanya saya capai dan mau istirahat. Namun apa yang terjadi kemudian? Tidak ada balasan pesan. Sebab tidak ada balasan pesan, saya kemudian mengechatnya ‘halooo’ dan tidak ada balasan lainnya.

Dalam SMS yang lain, dengan nomor yang berbeda. Pada hari Rabu, 19 Februari, pukul 11.06 Nayla Alika kembali memberikan pesan dan menanyakan kabar, ‘are you okay?’, dan saya jawab ‘fineeeeee’. Tidak ada pesan berikutnya sampai pukul 16.46, yang memberikan pesan ‘aku kurang sehat kunyuk’ yang mengindikasikan bahwa ia sedang sakit dan kemudian saya balas pada pukul 20.21 ‘ya mana tahu’. Namun sebab tidak ada pesan lanjutan, saya mengingatkannya untuk istirahat pada pukul 22.03 (kurang baik apa saya coba?).

Gambar 2.2
Komunikasi via SMS lainnya dengan Nayla

Sementara di kehidupan media sosial, Whatsapp misalnya, saya cenderung mengasingkan diri dan menonaktifkan Whatsapp sebab gempuran keluarga. Sementara Instagram fokus pada pengembangan akun berbasis meme. Selain itu, Whatsaapp Nayla Alika juga sempat kena hack atau sadap, yaitu pada tanggal 17 Februari 2025. Hal tersebut membuat komunikasi pada akun Whatsappnya yang satuan tidak bisa digunakan. Akhirnya, komunikasi pun menggunakan satu akun. Namun, pesan berakhir semenjak saya bilang bahwa saya masih ada kerjaan. Tidak ada balasan lagi setelah itu.

Gambar 2.3
Bukti bahwa saya cepat membalas pesannya disertai keterangan yang jelas


Balasan berikutnya terjadi pada akun yang sudah di hack tersebut, tepatnya pada hari Minggu, 23 Februari dengan pesan sekali lihat. Setelah saya balas, Nayla kemudian memberikan long text panjang statemennya, berikut pesannya:

sekarang mau keluarin alasan apa lagi? sibuk? ngantuk? infj? apa? coba sekali kasih adek alasan yang bisa adek terima lagi, yang bisa adek maklumi lagi. Dibanding adek, lebih sibuk siapa? adek mana kuliah, mana kerja, mana urus ponaan, tugas adek juga menumpuk, tapi kalau untuk kakak adek ada. Adek di atas gunung merapi, di tengah gawean badaruwihi saja adek bakal tetep cari kakak, gimanapun caranya. Ngantuk? dibanding adek siapa yang lebih ngantuk? adek juga ngantuk seharian kecapean beraktivitas malamnya insomnia, siapa yang lebih ngantuk?. INFJ? kita sepakat kok kakak INFJ, dan adek sangat bisa maklumi itu, tapi sampai kapan? ...Padahal, adek selalu bilang setiap kita begini, setiap adek merasa keberatan, setiap adek merasa tertekan dengan sikap kakak yang adek anggap "seenaknya" ini, kalau kakak mau bilang nggak juga bilang, biar adek tahu adek posisikan diri gimana, tapi kakak ngga jawab itu. Ok, adek anggap kakak 'mau' makaknya kakak lanjutkan. Tapi yang namanya anggapan ngga selalu benar, sekarang jadi lucu kan? hatinya untuk orang tapi sama kita, apa iya pelampiasan? lucu kan?

kita sepakat kalau adek masih berfikir anak-anak, kita sepakat kalau adek 17 tahun, kita sepakat adek ga paham apa-apa, kita juga sepakat adek ngga bisa menjadi 'standar' yang kakak pengen. Tapi, seandainya kakak tahu..apapun untuk kakak, adek tetap usahakan, adek selalu coba..itu karena apa? karena adek sangat sayang kakak, kakak tau dirinya di sayang, malah makin begini.. seenaknya, terlalu sering adek kasih toleransi, terus kakak pikir adek ngga bisa sakit hati begitu?... Bukan karena adek kecil, lalu adek ngga ngerti hal ini, bukan..

adek sewaktu-waktu juga bisa capek kayak kakak, bisa ngantuk, dan bisa jadi introvert lagi, tapi untuk kakak, apapun itu.. I'll try. Adek bahkan sering kesampingkan perasaan sendiri hanya sekedar untuk maklumi sikap kakak yang entah akan menerima diri sebagai 'infj' sampai kapan. Dulu, kalau belum siap direpotkan ngapain mulai? bukankah kakak yang memulai? ada apa? gabut? ga ada kerjaan lain? penasaran? apa mungkin di orang lain kakak juga begini?

sekarang ngomong aja deh, jujur aja deh, sebenarnya kakak melanjutkan semua ini untuk apa? ngapain? dan kenapa? di orang kakak bisa jujur, di adek kenapa ngga bisa kan?

biar adek ngga begini-begini terus...adek mau bilang capek, ini mungkin kata ke "4536272625338374638" yang kakak denger. Jadi ya udah, mau gimana lagi...adek capek itu, Iya. Tapi ngga ngomong juga lebih cape..mau adek ngomong ngamuk-ngamuk, perengat perengut kayak kemaren juga sama aja..kakak masih sama.. sekarang ngomong aja deh..biar kita sekali-kali berhenti, ga ada ujungnya begini. Jangan seenaknya terus...

Oleh sebab itu, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal ini terjadi. Hal ini juga menjadi closing point yang menjelaskan saya tidak bersalah, dan Nayla Alika Azmi, bersalah.

1. Nayla Alika Azmi, Misinterpretasi

Nayla mempercayai bahwa saya tidak menyayanginya bila saya tidak memberikan pesan sebagaimana ia memberikan pesan. Pesan ‘ngantuk’ yang saya berikan diinterpretasikan sebagai sebuah pesan menghujam dan benci, padahal maksud saya ‘iyaaa, nanti dulu aku balas pesannya, aku ngantuk sebab capek jadi aku mau tidur dulu, luuuuv muaaach’

2. Nayla Alika Azmi, Tidak Konsisten

Keberadaan dua akun membuat Nayla sebenarnya tidak konsisten, terlebih ketika akun komunikasi satuan di hack, sudah jelas saya akan komunikasi dengan akunnya yang satuan, namun jika pesan di akun yang tidak di hack hilang dan tidak menjawab? Macam mana? Disinilah ketidakonsistenan itu. Misalnya saja, jika pesan di akun yang di hack tiba-tiba muncul, bagaimana kita tahu bahwa itu Nayla atau bukan? Bagaimana itu bukan Nayla tapi ternyata tukang Nasgor yang ternyata intel dan menculik Nayla? 

3. Nayla Alika Azmi, Kerasukan Iblis

Poin ini terlihat bercanda, namun ini benar adanya dan saya bisa memberikan buktinya. Pada suatu malam Nayla mengechat saya dan cerita bahwa ia tidak bisa tidur karena diganggu oleh jin, dan pesan berikutnya, ia menjelaskan bahwa iblis itu ‘masuk melalui hidungnya’, dan pesan berikutnya dihapus total. 

Gambar 2.4
Bukti bahwa setan/iblis masuk melalui hidungnya Nayla Alika Azmi

Berdasarkan fakta tersebut, besar kenyataan bahwa sebenarnya Nayla Alika Azmi sedang dirasuki oleh iblis. Pesan-pesan yang dihapus adalah bukti bahwa Nayla membutuhkan pertolongan namun sebab ia dikontrol oleh iblis, ia menghapus semua pesan itu. Pesan ‘ini dia masuk ke hidung adek’ adalah kesadaran terakhir Nayla sebelum dikendalikan oleh iblis. Turut berdukacita, Nayla.

Bagaimanapun juga, saya selalu membalas pesan Nayla, kendati tidak langsung dan membutuhkan waktu. Hmmmm.

Penutup

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa saya tidak bersalah, namun Nayla Alika Azmi, bersalah. Terdapat beberapa alasan mengapa Nayla bersalah, yaitu satu, tidak konsisten, misinterpretasi, dan tentunya, kemasukan iblis.

Oleh sebab itu saya menyarankan Nayla untuk di ruqyah, sebab kita tidak tahu apakah ia benar-benar Nayla, ataukah jin? Ataukah masih di kontrol Iblis? Selain itu, saya memberikan tuntutan kepada Nayla untuk memberikan video klarifikasi dan menyatakan bahwa dirinya bersalah.



DAFTAR PUSTAKA

Njir, ada daftar pustakanya WKAKAKKAKA

Ciee yang baca sambil senyum tapi kesel, WKAKAKAKAK



Ada-ada saja.


Share:

Selasa, 06 Februari 2024

Kepada Diriku Aku Meminta Maaf

 

Kepada Diriku Aku Meminta Maaf

Aku minta maaf, sungguh. Aku meminta maaf pada diriku sendiri. aku membawa diriku pada jalan ini, membuatnya terlunta-lunta, menyeret kepahitan, membawa perasaan sakit itu sendiri, memendamnya, membiarkannya pudar di dalam, kemudian meledak, aku menangis. Aku… aku… ini semua salahku! Namun aku telah memilih jalan ini, dan aku juga tidak mau kembali. Hanya saja sakit, sakit ini mengikutiku kemapanapun aku pergi, perasaan sepi, kesendirian, perasaaan terasingkan, perasaaan hancur, perasaan ingin mengeluarkan semuanya melalui bentuk tangisan, aku memendamnya dalam kesendirian, dan aku masih berlagak kuat, merasa hebat, tersenyum dan tertawa, namun tekanan itu, namun tekanan itu begitu terasa, benar-benar menikam dan membuat diriku merasa muak.

Aku ingin hidup namun tidak ingin hidup yang sepeti ini, dan pun aku mau hidup seperti itu tetapi tidak mau melakukan cara yang seperti ini. Paradoks bukan? Namun aku tidak punya pilihan, hanya saja, aku merasa jatuh, aku merasa hancur. Bahkan hancur pun aku dalam kesendirian. Dan lagipula, setiap cowok, setiap manusia, harus bertanggung jawab atas apa yang telah ia lalui, namun apakah selamanya aku akan melalui ini, tersendat-sendat di jalan, terluka, menempelkan kepala pada tembok, menangis? Mengapa hidup mesti tentang perjuangan dan penerimaan, jika memang tujuannya hanyalah kenikmatan belaka? Tuhan, entah desain mana yang telah kau buat dalam hidupku, entah keajaiban mana, tetapi rasa ini, ya ampun, rasanya memekik dan mencekik, aku mau hidup lebih lama, namun akankah selamanya dengan jalan ini ya Tuhan? Bukan kehidupannya, melainkan perasaan yang tidak bisa aku kendalikan.

Rasa yang membelenggu, menendangku, mengulitiku, hiduuup, hiduup, teriakku. Namun aku merasa hanya kesunyian, maafkan aku, maafkan aku, telah kubawa jiwa dan ragaku  dalam kesendirian dan kepecundangan, dan aku gagal, sekali lagi, gagal.

Maafkan aku.

Apakah kamu bahagia?

Tanya diriku, mungkin jiwaku.

Bbrapa kali, iya, namun tidak sebanyak yang kukira.

Jika itu buat kamu bahagia, jalani. Namun jika tidak, lihatlah.

Apa yang mesti aku lihat, jalan itu, jalan itu… kemanakah akhirnya, kearah baikkah atau tidak? Dan apakah ada jalan lain untuk kesana, selain jalann yang kamu tempuh saat ini?

Mungkin ada, namun aku tidak merasakan itu, aku rasakan hanya tekanan.

Mungkin kamu overdosiss, kelebihan tekanan.

Apa kaksudmu, aku tetrekan?

Kurang lebih seperti itu, habisnya, kamu selalu memaksa diri, menuyksa diri, padahal kamu lemah.

Aku, lemah? Iya,, bahkan sangat lemah. Tapi kau masih bisa jadi kuat.

Bagaimana caranya?

Ini tubuh kita, dan aku hanya jiwamu, maka cari tahulah sendiri.

Share:

Senin, 18 Desember 2023

Tentang Kita Yang Berharap Mati Hari Ini

 

kutulis kisah kita hari ini

namun tak dapat kujadikan ia kata

tanganku tercekat,

tak dapat menari seperti hari kemarin

apakah gerangan?

bertanya aku dalam sunyi

yang dijawab juga oleh sunyi

‘ah, kamu sudah tinggalkan kegiatan ini sejak lama’

‘menyelingkuhi aku dengan kegiatan yang lain’

‘lucu sekali, kamu. berkata bahwa kamu bermimpi untuk hal ini’

‘tapi kamu tinggalkan aku dibelakang’

‘dan orang-orang, mengejar impiannya’

‘meninggalkan kamu di belakang’

‘menyedihkan sekali bukan?’

‘bahkan sampah sekalipun lebih berharga’

‘daripada kamu’

 

kumakan perkatannya

kutelan dalam-dalam

namun tidak sedikitpun aku merasa diinjak

oh, duhai harga diri? kemana kamu pergi

maka harga diri pun menjawab

‘tak sudi aku, hidup didalam kamu’

‘banyak omong kosong’

‘tong kosong’

‘bodoh’

‘tolol’

‘bahkan tuhan pun menyesal ciptakan kamu’

‘matilah, entah dengan gantung diri’

‘atau melompat pada tempat-tempat tinggi’

‘dan balutlah dirimu dengan kain kafan’

‘dan galilah kuburanmu sendiri’

‘hanya dengan itu kamu tidak akan jadi penyusah’

‘dan dunia akan terus berjalan’

‘tanpa kehadiranmu’

‘dan mereka akan tetap tertawa’

‘tanpa kehadiranmu’

 

maka kuambil tali dan pisau, berpikir seperti apa aku mati

kemudian datanglah aku

dipeluknya aku,

‘nggak apa-apa, kamu udah sejauh ini’

‘akhir tahun sebentar lagi, dan bukan ide bagus untuk mati’

‘alkohol dan rokok, dopamin dan adrenalin’

‘kamu udah sejauh ini, apa kamu mau bertahan lebih lama lagi?’

‘keajaiban datang kepada mereka yang menunggu’

‘maka menunggulah, lebih lama’

‘sedikit lebih lama’

‘mungkin kamu akan temukan cahayanya’

 

kujawab ia dengan berbisik,

‘aku muak’

‘mungkin mengakhirinya adalah jalan yang terbaik’

‘tidak akan ada lagi aku’

‘tidak akan ada lagi kamu’

‘dan momen saat kita pergi, menghilang’

‘akankah ada yang akan menangisi’

 

dan logika, dari pojokan ruangan, muncul dan berkata

‘mati pun kamu masih mengharapakan orang lain’

‘mati pun kamu masih memikirkan orang lain’

‘bodoh, tolol’

‘mati ya mati’

‘hidup ya hidup’

‘jangan ada orang lain lagi’

‘hanya ada kamu, dan pilihan kamu’

‘tidak ada tuhan, hanya ada kamu dan pilihan’

 

dan musik-musik bermunculan, bersama rasa syukur dia melompat

‘sebelum kamu mati? maukah kamu mendengar musik untuk terakhir kalinya?’

aku persilahkan dan ia mulai berbunyi,

dan buku melompat dari lemari,

‘sebelum kamu mati, maukah kamu membacaku untuk terakhir kalinya?’

maka kupersilahkan ia ke pangkuanku

lalu puisi dan tulisanku, muncul dari kertas dan laptop,

‘sebelum kamu mati, maukah kamu menyelesaikan aku terlebih dahulu?’

maka kuambil pena dan kuselesaikan puisiku

maka tanganku menari diatas keyboard laptop,

sekali lagi,

menulis tentang kamu.

‘aku telah selesaikan semuanya, aku mau mati’

peta muncul dan berkata,

‘belum, kamu belum pergi ke tempat favorit kamu’

‘disini dan disini’

‘dan kamu belum mendaki gunung ini juga’

aku sedih, kemudian berkata,

‘kalau mengerjakan semua itu, aku tidak bakalan mati.

‘sementara aku mau mati, saat ini’

dan kopi datang bersama gelas dan stoples gula

‘sebelum kamu mati, maukah kamu meminum aku,’

‘untuk terakhir kalinya?’

aku marah,

‘kalian menjengkelkan!’

‘aku mencoba banyak hal’

‘dan gagal, dan gagal’

‘aku mencoba bertahan’

‘tapi aku juga mau semuanya berakhir’

‘aku sendirian’

‘aku kesepian’

‘begitu ramai diluar sana’

‘tapi mengapa aku merasa sendiri?’

‘aku mau semuanya berakhir disini’

‘bunuh aku, akhiri semuanya’

‘tidak akan ada lagi aku’

 

dan setan keluar dari alam ghaibnya,

‘sialan! kalian semua menghalangi pekerjaanku!’

‘bunuh dirilah! masuklah kedalam neraka!

‘jadilah keraknya! terbakarlah bersama batu dan manusia lainnya!’

 

dan malaikat muncul dari alam ghaibnya,

‘duhai setan! kamu melanggar konstitusi!’

‘kamu sama saja seperti manusia di negara ini’

‘tapi kamu memang setan sih’

‘tapi kamu melanggar konstitusi akhirat’

 

dan kamarku ramai,

buku-buku yang lain bermunculan, meminta untuk dibaca

puisi dan tulisanku bermunculan, meminta untuk diselesaikan

dan tempat-tempat favoritku di bumi, bermunculan untuk dikunjungi

dan kopi-kopi,

dan mimpi-mimpi,

malaikat dan setan,

tentang kebebasan dan konstitusi,

ah, tahi anjing

kalau begini, aku mau mati di lain hari

nggak hari ini,

mungkin besok nggak seramai hari ini

 

dan aku, memeluk diriku sendiri

‘ah, ya. kita memang sudah sejauh ini’

 


Share:

Puisi Bunga Diatas Kuburan

 

Ayah,

Aku cuma mau bilang bahwa aku terbakar habis

Dan setiap hari aku merasa diriku menjauh dari apa yang kuinginkan

Juga menjauh dari apa yang kau inginkan

Di kamar  yang sumpek ini

Aku tetap mencoba bernapas dan tersenyum

Dan kala aku keluar kamar

Aku melihat dunia tetap berjalan tanpaku

 

Ayah,

Aku nggak sepenting itu kan?

Dan apakah ada artinya aku ada dan tidak?

Lalu jika memang aku tidak penting itu,

Mengapa aku dilahirkan?

 

Hari demi hari aku hancur dari dalam

Mencoba merangkak naik

Namun hitam ini memelukku

Ayah, aku ingin menenggak belati

Yang akan masuk lewat mulutku

Menuju kerongkongan

Masuk kedalam ulu hati

Lalu pertanyaan-pertanyaan berseliwaran

Air mata diatas kuburan

Bunga-bunga yang tidak pernah aku dapatkan

Dan dunia berjalan,

Tanpaku

Sebab aku nggak sepenting itu

Share:

Jumat, 08 Desember 2023

Thrifting Yang Gagal, Amira, dan Balada Leadership

 

8 Desember, pagi. Tepatnya hari Jumat dan aku telat bangun. Padahal sebelumnya aku telah berencana untuk ngethrift pagi ini dan bertanya kepada Zulaikha tentang tips trik ngethrift di Karang Sukun.

Dari ucapannya, aku ambil beberapa poin, satu:

“pertama kamu harus pake bahasa Sasak, umumnya harga disana tinggi-tinggi jadi kamu harus bisa nawar sampai harga serendah-rendahnya”

Well, ini menarik. Aku sudah siap tempur. Penggunaan bahasa Sasak kurasa digunakan agar aku bisa berbaur dengan masyarakat sini. Karena berhadapan dengan orang Sasak maka aku akan menggunakan adat istiadat Sasak. Artinya aku tidak boleng datang kesana terus menunduk seperti orang Jepang dan berkata “Ohayo Gozaimaaaasu!”

Soalnya, selain dikira kesurupan sama orang Jepang, cuma takut aja pedagang disana malah akan balas “Ikeh-ikeh!”

Terkait  poin kedua untuk menawar pada titik terendah, aku telah siap adu bacot. Aku siap banting-bantingan dengan mamang-mamang disana, adu boxing sekalian. Sebelumnya aku juga belajar teknik Ackerman, jadi aku akan bersiap-siap mengalahkan mereka dengan drama-drama yang akan buat pedagangnya kasih harga gratis! Slebew! 

Yap, kali ini aku adalah Levi Ackerman dan dia adalah Titan abnormal yang telanjang dan bego!

Pesan kedua Zulaikha berbunyi

“Jangan pake tas kuliah, gunakan pakaian yang biasa, compang camping kalau perlu. Jangan pake pakaian kuliah, jangan pake pakaian formal, pake baju mainmu!”

Okeh. Cocok! Sebelumnya aku juga pernah tanya kepada Kamin bagaimana untuk ngethrift di Karsuk, dan dia mengatakan kepadaku untuk menggunakan pakaian bola. Baik Zulaikha dan Karmin, memiliki satu kesamaan, gunakan pakaian yang biasa.

Ketika Karmin mengatakan trik tersebut waktu itu, aku hampir membawa kesebelasan main bola agar benar-benar kelihatan kek orang biasa, namun untungnya nggak jadi karena kesibukan masing-masing. Pesan Kamin waktu itu satu, pastikan kamu kesana tidak tahu tentang fashion.

Dan poin dari kedua Zulaikha ini, satu: terlihatlah biasa. Jangan terlalu formal, dan jangan norak. Misalnya kalian main kesana pake baju ala Hitler, tidak boleh, itu terlalu formal. Atau mungkin kalian kesana (agar terlihat nggak tahu fashion) malah menggunakan bawahan rok warna kuning, baju pink, terus di kepala ada celana dalam nyantol warna ungu. Nggak boleh. Itu terlalu norak dan dibuat-buat, dan bukannya ngethrift, lu bakal dikeroyok massa karena dikira jelmaan Mimi Peri.

Compang-camping kalau perlu seperti kata Zulaikha, artinya lu bener-bener kelihatan kek orang miskin. Bahkan kalau bisa, biar lebih realistis, lu harus datang nggak hanya pake pakaian kusam dan nggak mandi selama tujuh hari, tapi juga bawa sekarung beras dibelakang punggung sambil berjalan kek orang tua injak tahi sapi; terseok-seok.

Paslah malam itu bersiap-siap.

Dan paginya, aku kelolosan.

Dan begitulah, untuk ketiga kalinya dalam hidup, aku gagal ngethrift.

Zulaikha ketika di kelas nanya kepadaku “Gimana Zis? Jadi ngethrift?”

“Aku kelolosan” ucapku, watados.

***

Tapi kampretnya adalah, ada hal yang unik pagi itu, sebuah mimpi yang buat aku kelolosan dan nggak jadi ngethrift untuk pertama kalinya dalam hidup. Dan mimpi itu aneh betul.

Saat itu pertandingan bola, dan yang main bola adalah raksasa-raksasa, beberapa orang seperti Blackbeard, Whitebeard, Kaido dan Bigmom, juga ikut main bola. Enggak tahu kenapa dreamworldku tiba-tiba didatangi karakter-karakter kampret dari One Piece.

Main bolalah mereka, dan kala itu ada bangunan-bangunan, saat aku kesana aku malah ketemu Amira, si cewek kacamata. Dan disana juga ada Ibnu, aku nggak ingat beberapa part dan drama apa yang terjadi. Yang jelas, Ibnu mengangkat Amira dari belakang dan dada Amira kena kayu, ketika diturunkan, luka hitam jelas banget didadanya.

Amira langsung tereak nangis kejer kek kakinya kejepit pintu kulkas “HUAAAAAA…..BAPAAAAAAAAAAAAK!”

Ibnu kabur.

Tinggal aku, dan nggak tahu harus apa, akhirnya aku datang kedepannya dan peluk dia.

Yap, peluk dia.

Dia masih nangis emang, dan kala itu tiba-tiba saja ada seorang kakek tua. Aku meminta bantuannya untuk mengobati Amira dan akhirnya Amira diletakkan diatas dipan, karena dadanya terluka maka pakaiannya dilepas, dan aku cukup kaget…kok…nggak ada buah dadanya ya? Rata aja gitu kek balok.

Perlahan aku telusuri dari dadanya, ke pusar, ke baw….

AAAAAAAAAAAAH…..PENIIIIIS!

NJIR DIA PUNYA PENIIIIS!

Dia lanang cuy! Cowok! Cowok yang pake jilbaaaaab!

Dan setelah itu, kapanpun aku keinget Amira, ketemu Amira, aku jadi ilfil.

Masih nggak nyangka juga kalau dia punya penis yang unyu-unyu.

 

***

Leadership! Sebelum UAS kami dipertemukan lagi dengan perkuliahan Leadership. Hal yang menarik hari ini adalah bahwasanya dalam perkuliahan kami dituntun untuk membuat tim. Akhirnya aku dan Asrul maju, sebelumnya, aku pernah troll Mariya.

“Ayo! Siapa yang maju” perintah pak Adin

“Aziiis, ayo Aziiis!” ucap kawan-kawanku, kek manggil monyet.

“Indah aja! Kepala suku!” balasku, namun Indah tidak mau

Sebab aku duduk dibelakang dan ada Mariya di depanku. Ide jahat muncul di kepalaku.

“MARIYA AJA PAK!”

“AAAAAAAH! NGGAAAAAAAK!”

Teriaknya keras banget njir, seolah kalau kedepan dia akan jadi istrinya pak Adin secara langsung.

Tapi kalau dipikir-pikir, keren juga sih. Si Mariya teriak” AAAAA….NGGAAAK! tapi lumayan sih, punya sugar daddy! Ehe!” *sambil kedipin mata

Akhirnya semuanya pun menjadi random. Akulah yang maju, dan secepat kilat temen-temenku ambil timnya masing-masing kek main Mobile Legend. Aku telah bersekongkol dengan Ivan untuk satu tim, namun hancur karena imannya goyah akibat Mia dan Jer.

Akhirnya, aku sekali lagi team up sama dua ncup itu. Dan Ivan team up sama Mariya dan Zulaikha. Megan kusatukan dengan Ziya dan Indah, yang lain aku satukan dengan yang nggak Indah.

Hal yang kocak adalah Zar yang datang tepat waktu, ikut sama kita, dan malah kena usir karena kelas D disuruh masuk belakangan. Kocak betul. “Hey, aku gini-gini ketua Romusha di sekolahku!” ucapnya.

“Masyaallah, siapa tahu kamu adalah keturunan nabi! Pasti ada habib dibelakang namamu!” ucapku

“Hm, aku tahu! Kamu pasti keturunan nabi Ya’kub!” balas Ivan.

“Keturunan Fir’aun”

Begitulah hari berlalu. Satu hal yang menarik, Ivan secara sengaja berkata “Mariya, sebenarnya aku ada perasaan sama kamu”

Namun Mariya tidak menggubris, Zulaikha diam, mungkin merasa kalau Ivan becanda. Tapi sebagai sahabat, aku langsung berdiri.

“Ayo Mariya! Aku siap jadi penghulunya!”

 

***

Malam ini  aku berencana membeli kertas Vinyl, aku bahkan nyari di Google Maps dan dibawa ke jalan Aneka di Udayana. Seru malam-malam ketika nggak ada keperluan berjalan-jalan. Waktu itu juga aku sedang menyasar rektor untuk penurunan UKT.

Namun sayang, aku malah ke Airlangga, beli buku. Dua buku yang aku beli dengan harga murah: Espresso karya Bernard Batubara, dan Karung nyawa karya Haditha. Harganya 15.000 dan 10.000. Siapa yang nggak mau beli?

Esok kita akan camping, jadi aku perlu istirahat.

Share:

Rabu, 06 Desember 2023

Aku Usai Titi, AKU USAAAAAAAAI

 

Perlahan, semua terlihat memudar; Impian, harapan, cita-cita, asa, semuanya. Aku malah terlihat seperti sebuah kapal titanic besar nan angkuh, dan tepat didepanku ada sebuah bongkahan es raksasa yang menunggu. Aku menabraknya, patah jadi dua, hancur berkeping-keping. Aku jatuh dalam samudera yang gelap dan dingin bersama impian-impian yang aku miliki.

Tidak tahu juga mengapa aku mengawali tulisan ini dengan paragraf seperti itu, mungkin sebab proposal yang aku tulis belum ada satupun batang hidungnya, mungkin karena kawan-kawanku telah berlari jauh sementara aku tertinggal dibelakang, mungkin karena aku berjalan terlalu pelan, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Namun aku berusaha, tentu, aku berusaha. Aku berusaha tetap bernapas diantara gempuran segalanya, tentang kehidupanku yang monokrom dan ampas, tentang perasaan yang membatu dan tidak bisa aku miliki. Dalam urusan ini kawanku berkata untuk menunggu, namun aku telah menunggu terlalu lama, setiap detik, jam, bulan, dan tahun. Aku bahkan tidak lagi menghtung telah berapa banyak purnama. Aku terjatuh, rebah, terluka menatap bintang. Aku terbakar pada rumput ilalang, aku usai, aku ingin segalanya usai, aku berakhir, tertikam, digenjet oleh batu-batu. Aku pengen teriak, baiklah aku akan teriak: AAAAAAAAAAAAAH!

Tapi kampretnya perasaan ini tidak bisa keluar, ia mendekam terlalu dalam, sangat dalam sampai aku bahkan bingung harus apa. Aku, aku mungkin butuh pertolongan, seseorang, seseorang, tapi dalam kehidupan kita yang sibuk, saat manusia-manusia lainnya juga sibuk dengan urusan mereka masing-masing, apakah meminta pertolongan adalah hal yang tepat? Aku berusaha, namun semuanya nampak meninggalkan aku terbakar diatas rumput ilalang. Seseorang, seseorang, seseorang mungkin semestinya membunuhku, agar aku tidak lagi menghirup napas-napas harapan dan asa. Agar aku mati semati-matinya.

Dalam keniscayaan dan keputusasaan ini aku menulis. Dalam diamku, dalam senyumku yang bahkan tidak aku tahu palsu tidaknya. Aku tertikam. Atau mungkin aku perlu menaburkan bensin disekujur tubuhku agar sekali lagi aku usai diatas rumput ilalang ini.

Orang-orang telah seperti kereta api yang berjalan jauh dengan suara bising-bising mereka, dan aku masih berdiam diri, menatap mereka menjauh. Aku melihat mereka seperti perahu mungil dengan layar-layar terkembang bahagia, melintasi laut dan samudera, singgah pada benua satu ke benua lainnya. Sementara aku disini, menjadi kapal Titanic yang karam ditengah jalan. Patah jadi dua, masuk kedalam samudera.

Dalam diamku, aku hanya berpikir bagaimana semua bergerak begitu cepat, meninggalkan kita di masa lalu. Kita semua melumut menunggu masa-masa itu, sesuatu yang kita kejar tapi menjauh. sesuatu yang pada akhirnya usang, dan noda-noda hitam pada baju, debu-debu yang ada pada wajah. Semuanya…semuanya…mengapa begitu jauh?

Tapi mungkin benar. Beberapa orang di dunia ini diciptakan untuk sendirian dan bergulat dengan rasa sepi. Beberapa manusia di dunia ini akan selamanya berada pada lingkarannya sendiri dan tidak dapat keluar dari lingkaran itu. Selamanya mereka akan disana, berdiri sampai akhir waktu, kemudian perlahan usang dan mati. Perlahan, terbunuh. Beberapa orang itu akan tetap ada disana, dalam kesendirian dan kesunyian, dalam kesepian yang akan selamanya merangkak. Mereka akan hidup dalam dunia yang monokrom, tempat dimana semuanya abu-abu, tanpa warna. Mereka akan habis masa, terbunuh sebab tertikam, atau mungkin yang paling menyedihkan, terbunuh sampai habis usia.

Mereka tidak memiliki kawan, tidak memiliki lawan, hanya ada dirinya dan waktu.

Dan sayangnya, orang itu jugalah aku.

Maka ajarkanlah aku tentang warna-warna, tentang keramaian, tentang segala yang membuat apiku menyala kembali. Dan padang ilalang terbakar yang kita lewati, menyisakan abu untuk bunga-bunga baru bertumbuh. Tempat kita tertawa dan menari, tempat hanya aku dan kamu.

Disini.

Share:

Cowok dan Sosial Media Jam 12 Malam

 

Aku terbangun pada shubuh-shubuh betul, dan hujan lagi garang-garangnya diluar. Guntur menggaung kayak kambing kayang di kaki langit, kilat-kilat menyambar kayak fotografer, hujan menyerang kayak taju kage bunshin Naruto, kuyang lewat, sapi goyang dumang, ceilah!

Intinya shubuh itu dingin banget dan si ketum Danil lagi tepar setelah semalaman belajar tentang proposal untuk Metode Penelitian. Karena ngulang kelas, akhirnya dia berhadapan dengan si metopen, bigbossnya semester 5. Sampai saking bigbossnya, dulu teman kelasku sampai nangis saat naik semester, mereka peluk-pelukan, jatuh, terus guling-guling di tangga PGMI. Gila betul!

Tetapi balik lagi ke hujan tadi, aku kemudian tertantang dan perlahan membuka baju sehingga otot-ototku yang kekar menunjukkan diri (branding dikit biar keren, hehe), dengan sarung yang masih menempel, aku mendorong gerbang agar terbuka, menatap langit yang hitam legam dengan hujan deras yang seperti cinta kamu ke dia.

Aku kemudian berjalan dibawah hujan, melawan rintikan air itu, menantangnya. Andai mereka seukuran sapi dan bisa hidup, aku dan dia pasti sudah gelud. Begitulah pagi dimulai dengan segala kekampretannya.

Tapi emang dingin banget. Aku maksa tetap dibawah hujan dan berada pada pancuran yang airnya jatuh dari atap. Aku mengoles tubuhku dengan sabun sembari tetap didalam pancuran. Rasanya, beuh, dingin tapi asoy.

Hal yang membagongkan adalah sebab sedari malam aku mencoba tidur tapi tetap tidak bisa tidur. Nggak tahu kenapa. Akhirnya sepanjang malam aku scroll Tiktok, buka Facebook untuk cari meme, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dan nggak tahu kenapa, percaya atau tidaknya beberapa media sosial akan menunjukkan watak aslinya kalau malam. Coba deh jangan tidur semalaman dan jangan kedip sama bernapas, besoknya pasti kamu tewas. Itu pernah dicoba sama almarhum kawanku.

Maksudku begini, entah kenapa media sosial kalau malam itu menjadi aneh dan abstrak. Tiktok kalau siang hari isinya edukatif semua, tentang kekayaan, kesuksesan, rekomendasi buku dan film, cara menjadi guru, cara dapat pekerjaan, cara magang di lampu merah, cara manggil Baphomet, cara kudeta presiden, dan hal-hal edukatif lainnya.

Sementara kalau malam kampret banget! Iyo, yang muncul adalah kebalikannya. Dari perempuan joget sampai laki-laki joget, dari bapak DPR yang joget sampai presiden joget. Emang aneh, kok bisa malam-malam joget struktural itu bisa muncul. Dan nggak tahu kenapa, media sosial kalau malam-malam itu pasti memunculkan cewek cantik, cakep, dan bohay.

Disitu aku menyadari bahwa media sosial sudah diibaratkan pasar, cuma kalau malam, jadi pasar malam, dan kalau hari senen, jadi pasar senen. Hehe. Dan masalahnya adalah, kita sebagai konsumennya akan susah lepas dari perangkap-perangkap genjutsu itu.

Bayangkan aja kalau lu adalah cowok yang berantem sama ceweknya tiap hari, sehabis maghrib lu kalah main togel, lose-streak di ML, terus buka Tiktok jam 1 malam dan cewek-cewek brutal itu muncul sambil goyangin pantat kek bebek. Halusinasi cowok pasti keganggu, dan harapan mereka untuk menang pasti berubah menjadi pertanyan; kok gue gagal ya.

Setelah ini mereka pasti akan—setidaknya—bakar rokok, kaki naik sebelah, hirup rokok terus buang ke langit, terus goyang pargoy.

Media sosial itu sok tahu keinginan manusia, tapi mereka nggak bener-bener tahu. Hanya diri kita yang tahu tentang diri kita sendiri, emang bener sih media sosial kadang menawarkan solusi, tapi kampret tahinya itu cuma teori, sementara aksi hanya bisa dilakukan oleh diri kita sendiri.

Jadi kalau lu cowok, terus malam-malam stress, gabut, depresi sambil buka media sosial. Insyaf bro.

Dan balik lagi ke peristiwa hujan, aku pada akhirnya balik setelah entah berapa lama kehujanan. Dengan fisik yang tidak stabil akibat begadang, kemudian shubuhnya mandi hujan, kalian pasti tahu apa yang akan terjadi.

Yak betul, besoknya aku kena flu.

Tapi alhamdullilah sih, daripada kamu kena bisul, yahahahhaha.

Share: